Salah satu ikon kecamatan Mojowarno adalah pasar tradisional Mojowarno. Pasar Mojowarno merupakan landmark kuno yang dikenal sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Selain Pasar Mojowarno, sudah ada Rumah Sakit Kristen (RSK) Mojowarno yang menjadi lembaga layanan kesehatan terkenal di wilayah Kabupaten Jombang, Mojokerto, dan sekitarnya. Namun dari semua landmark di Mojowarno yang telah ada, Pasar Mojowarno adalah fasilitas umum yang paling berkesan untuk saya.
Saya masih ingat ketika masih kecil dulu saya suka sekali diajak orang tua untuk berbelanja ke Pasar Mojowarno. Waktu itu saya berpikiran Pasar Mojowarno adalah pusat kesenangan karena ada makanan enak, minuman segar, mainan menarik, dan segala keriuhan lainnya. Itu dulu. Bagaimana dengan sekarang? Apakah Pasar Mojowarno masih menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh pembeli?
Pagi ini saya mengantar kakak berbelanja ke Pasar Mojowarno. Selama bertahun-tahun saya hijrah ke kota lain, kesempatan kali ini ingin saya manfaatkan untuk mengamati perkembangan pembangunan pasar. Jam 05.05 WIB saya naik sepeda motor dari rumah. Sesampai di Pasar Mojowarno ternyata belum banyak pedagang yang siap menjual barang dagangannya. Baru ada satu dua penjual daging ayam. Pedagang yang lain entah sedang apa mereka.
Kalah Dibanding Pasar Ngoro dan Bareng
Sisi jelek Pasar Mojowarno adalah sudah tutup beroperasi ketika menginjak jam 10.00 WIB. Jadi, masa aktif pedagang berjualan di pasar tersebut hanya sekitar 4 jam saja. Kondisi demikian diperburuk oleh kebersihan pasar yang amburadul. Banyak sampah berserakan di pasar. Tempat parkir tidak ada yang menjaga. Susunan stand pedagang juga tidak dilakukan dengan rapi. Kesimpulan saya, tugas mantri pasar tidak berjalan dengan baik.
Kondisi Pasar Mojowarno di atas sangat berbeda jauh dengan dua pasar tradisional di Kab. Jombang lain yang berada di dua kecamatan tetangga, yaitu Pasar Bareng dan Pasar Ngoro. Pasar Bareng dan Pasar Ngoro sekarang berkembang dengan pesat. Pasar Bareng mengandalkan barang dagangan hasil perkebunan dan pertanian di wilayah pegunungan Anjasmoro. Sedangkan Pasar Ngoro mengandalkan produk perikanan darat di wilayah Kecamatan Ngoro.
Pasar Ngoro dan Pasar Bareng memiliki jam buka yang lebih panjang sehingga memungkinkan pedagang menjual barang dagangannya lebih lama. Dalam kesempatan yang berbeda saya pernah mengantarkan ibu berbelanja ke Pasar Ngoro dan Pasar Bareng. Kondisi kedua pasar tersebut sehabis subuh sudah ramai. Pada jam 5 pagi para pedagang sudah siap melayani pembeli. Jam tutup kedua pasar di Jombang ini juga lebih lama, sekitar jam 12 siang.
Jika Pasar Mojowarno dibiarkan tidak terurus seperti ini, bukan mustahil pasar tersebut akan sepi pengunjung. Saat ini volume perdagangan pasar Mojowarno sudah tidak mampu mengungguli Pasar Mojoduwur dan Pasar Menganto, dua pasar yang juga berada di Kecamatan Mojowarno dengan volume perdagangan yang lebih ramai. Pasar Mojowarno tidak memiliki komoditas unggulan sehingga tidak mempunyai daya tarik khusus di mata pembeli.
Sudah seharusnya fungsi mantri pasar digunakan lagi sehingga pembangunan pasar dapat lebih memajukan pedagang. Pembeli pun tidak akan ragu berkunjung bila kondisi pasar dapat mendukung pemenuhan kebutuhan berbelanja sehari-hari mereka dengan mudah. Kalau kondisi pasar tradisional tetap begini terus, jangan salahkan warga kalau nanti mereka lebih suka berbelanja ke pasar modern dan minimarket. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan Anda.












