Sulitnya Menjatuhkan Pilihan Berbelanja di Supermarket

Sulitnya Menjatuhkan Pilihan Berbelanja di Supermarket

Sulitnya Menjatuhkan Pilihan Berbelanja di Supermarket

Suatu hari saya sedang berbelanja di sebuah supermarket. Saya mengamati rak-rak supermarket yang berada di Surabaya. Cara menatanya hampir sama dengan minimarket lokal terdekat dengan rumah. Saya menemukan 85 jenis dan merk biskuit crackers yang berbeda. Ketika saya membaca kemasannya, saya mendapati bahwa beberapa merek mengandum sodium dan yang lain tidak. Beberapa bebas lemak, sedangkan yang lain tidak. Biskuit tersebut dikemas dalam kotak berukuran besar dan kecil. Ada biskuit yang berukuran biasa dan ada yang sekali gigit. Ada pula biskuit yang bertabur garam biasa dan biskuit eksotis impor yang mahal.

Lain lagi dengan minimarket lokal terdekat yang ada di rumah. Meski bukan minimarket besar, namun di sebelah crackers terdapat 45 jenis kue lain. Ada 21 pilihan biskuit chip coklat. Ada 10 variasi yang berbeda dari biskuit merk lokal. Pada lorong di balik barisan kue dan biskuit terdapat rak minuman jus, minuman olahraga, minuman kotak untuk anak-anak, es teh kotak dan minuman orang dewasa. Saya bisa membeli minuman yang berupa teh dengan pemanis buatan ataupun gula, teh dengan aroma melati, teh rasa madu dan cita rasa lain.

Tur singkat yang baru saja saya lakukan di dalam supermarket dan minimarket tadi menunjukkan banyaknya pilihan bagi konsumen kelas menengah. Saya tadi belum membahas buah segar dan sayuran, daging segar, ikan, unggas, makanan beku, produk pembersih dan lain-lain. Supermarket memiliki lebih dari 30.000 jenis barang. Ada begitu banyak produk yang bisa kita pilih. Dan setiap tahun terdapat lebih dari 20.000 jenis produk baru yang dipajang di rak-rak supermarket, hampir semuanya mengalami kegagalan menjadi produk terlaris.

Supermarket dan minimarket adalah gudang penyimpanan barang-barang yang kita sebut sebagai barang tidak tahan lama. Yaitu barang yang akan segera digunakan dan perlu diganti dengan yang baru. Dengan demikian, salah membeli merek biskuit tidak akan menimbulkan konsekuensi emosional dan finansial yang berarti. Namun orang sering kali membeli barang yang lebih mahal namun lebih tahan lama. Disini seiring dengan bertambahnya jenis pilihan, resiko psikologis juga akan bertambah.

Bagaimana dengan pengalaman Anda saat berbelanja di supermarket? Sering mengalami kebingungan dalam memilih barang yang akan dibeli?

About Agus Siswoyo

Warga Jombang, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo. Matur nuwun!
This entry was posted in Ekonomi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Sulitnya Menjatuhkan Pilihan Berbelanja di Supermarket

  1. Pingback: Pilihan Berbelanja Melalui Katalog Penjualan Via Pos | The Jombang Taste

Leave a Reply