Ashhabush Shuffah Bukan Ahli Tashauwuf Dan Shufi

Ibnul Jauzi menerangkan bahwa terdapat sekelompok kaum yang memiliki pandangan bahwa tashauwuf, di Indonesia dikenal dengan nama tasawuf, merupakan nisbah atau berasal dari Ashhabush Shuffah. Mereka berpendapat demikian karena setelah melihat bahwa Ashhabush Shuffah itu sifatnya seperti shuffah, yaitu menyendiri untuk beribadah kepada Allah.

Ashhabush Shuffah umumnya hidup menjalankan ibadah dalam keadaan fakir miskin karena mereka kebanyakan berasal dari keluarga fakir miskin yang datang kepada Rasulullah SAW dengan tidak berkeluarga dan tidak berharta. Lalu Rasulullah SAW mendirikan satu tempat di sisi masjid Rasulullah di Madinah yang diberi nama shuffah. Orang-orang yang tinggal di tempat tersebut dinamakan Ashhabush Shuffah.

Ada satu hadist dari riwayat Al-Hasan ia berkata: Didirikan shuffah itu untuk orang-orang yang dhaif atau lemah dari kaum muslimin. Maka orang-orang muslimin yang mampu memberi sokongan kepada mereka menurut kesanggupan masing-masing. Dan Rasulullah SAW terkadang datang kepada mereka dengan mengucapkan:

“Assalam mualaikum ya ahlas shuffah. Mudah-mudahan Allah limpahkan kesejahteraan atasmu, hai ahlus shuffah”.

Lalu mereka menjawab: “Waalaikum salam, ya Rasulullah. Dan mudah-mudahan pula Allah limpahkan pula kesejahteraan atas engkau ya Rasulullah”.

Lantas Rasulullah bertanya: “Kaifa ashbahtum?” (Bagaimana kamu berpagi?).

Jawab mereka: “Bikhairin, ya Rasulullah” (Dalam keadaan baik, yas Rasulullah).

Satu riwayat lagi dari Abu Dzar, ia berkata:

“Aku pernah menjadi Ahlush Shuffah. Apabila sore hari, kami bisa datang ke pintu rumah Rasulullah SAW. Beliau perintah tiap orang dan dibawanya seorang, maka yang tinggal dari Ahlush Shuffah sepuluh orang atau kurang. Lalu beliau memerlukan menyediakan makan malam buat kami. Kemudian kami makan. Apabila selesai, berkatalah beliau kepada kami: Namu fil masjid. Tidurlah kamu di masjid”.

Ashhabush Shuffah tinggal di masjid itu karena darurat atau terpaksa. Tetapi tatkala Allah memberi kemenangan kepada kaum muslimin, maka mereka tidak memerlukan lagi hidup demikian, lalu mereka keluar semuanya dari Shuffah itu.

Menurut Ali Alhamidy, menyandarkan atau menisbahkan perkataan shufi atau tashauwuf itu kepada Ashhabush Shuffah adalah salah. Kalau disandarkan kesana, seharusnya shuffi, bukan shufi. Semoga artikel ini bisa menambah motivasi Islami dan wawasan Anda dalam mempelajari agama Islam.

About Agus Siswoyo

Warga Jombang, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo. Matur nuwun!
This entry was posted in Islam and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply