Mengajar anak-anak membaca Al-Quran membutuhkan kreatifitas dan inovasi metode pengajaran. Mau tidak mau saya harus mengatakan bahwa sebagian besar muslim Indonesia yang berumur 25 tahun ke atas merupakan produk pendidikan cara Orde Baru (ORBA). Ciri pendidikan ORBA salah satunya adalah berdasarkan pada pakem dan menyediakan hanya sedikit ruang kreatifitas bagi pengajar.
Salah satu hasil kreasi pengajar Quran sekarang saya temui pada PGPQ Mojowarno, khususnya pada pembahasan Idghom Bighunnah. Jaman dulu saya diajarkan ucapan begini: apabila ada tanwin atau nun mati bertemu dengan salah satu huruf ya’ nun mim dan wawu, maka harus dibaca dengan dimasukkan dan mendengung. Nah, arti kata dimasukkan itu yang bagaimana?
Bagi santri yang pintar mencerna kata-kata ustadz, tentu mereka tidak akan kesulitan memahami ilmu tajwid yang satu ini. Namun bagi santri yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata, maka mereka akan membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Ustadz juga harus memperhatikan makna konotasi ‘memasukkan’ yang mungkin terkesan jorok bagi masyarakat saat ini.
Makna konotasi adalah makna yang tidak sebenarnya dari sebuah kata atau frase kata. Misalkan: buang hajat. Buang hajat bukan berarti membuang acara penting (hajatan) keluarga, tapi merupakan bentuk sopan dari kata ‘berak’. Lawan kata makna konotasi adalah makna denotasi. Makna denotasi adalah makna sebenarnya dari sebuah kata. Makna denotasi sudah semakin jarang digunakan karena masyarakat terpengaruh acara hiburan di televisi.
Saya mendapatkan cara mengajar hukum bacaan ghunnah di PGPQ Mojowarno dengan kalimat yang kurang lebih sama dengan metode konvensional. Namun kalimat yang dipakai sedikit berbeda. Hukum bacaan ghunnah diajarkan di PGPQ Mojowarno dengan cara: ‘ditekan yang lama biar enak’. Hal tersebut berlaku pula untuk hukum bacaan nun atau mim yang ber-syadah atau syidah. Ustadz atau ustadzah diajarkan bertanya kepada anak untuk mengetahui pemahaman mereka tentang hukum bacaan nun dan mim syadah.
Makna Konotasi Ditekan Yang Lama Biar Enak
Cara ustadz atau ustadzah mengetahui tingkat pemahaman santri misalnya dengan bertanya:
“Anak-anak, bagaimana cara membaca nun syadah dan mim syadah?”
“Ditekan yang lama biar enak…!”
Pada umumnya anak-anak akan menjawab kalimat ‘ditekan yang lama biar enak’ sambil tersenyum. Mungkin mereka telah mengalami pendewasaan berpikir sebelum waktunya sehingga pikiran mereka telah berasosiasi kepada hubungan suami-isteri.
Saya pun demikian. Ketika pertama kali diajar oleh ustadzah Ella Maulidiya, saya agak ragu metode pengajaran ini akan disukai oleh para santri. Saya merasa konotasi ‘ditekan yang lama biar enak’ terlalu vulgar. Bahkan kalimat ini sudah dipakai oleh pedangdut Cucu Cahyati dalam salah satu lagunya. Ini ngaji Quran kok diajarkan menekan-nekan apaan gitu. Apa nggak ada cara lain buat mengajar, begitu pikiran saya.
Namun saya penasaran untuk menerapkan cara pengajaran hukum bacaan ghunnah ini pada santri TPQ Al-Mujahidin. Dan benar saja. Mereka semua tertawa ketika saya ajarkan kalimat ‘ditekan yang lama biar enak’. Santri yang tertawa adalah mereka yang bersekolah di SD umum. Bagi santri yang bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI), cara pengajaran seperti ini sudah biasa. Dan sejauh ini mereka bisa mempraktekkan cara membaca ghunnah dengan benar.
Setiap menerapkan cara atau metode pengajaran yang baru, cara pengajaran Quran tersebut tidak serta merta mendapat respons bagus dari para santri yang diajar. Alasannya bisa bermacam-macam. Dua alasan utama sudah saya sebutkan di atas, yaitu metode pengajaran pada masa lalu dan nilai-nilai atau norma yang dianut masyarakat. Dan saya pikir ini hanya masalah waktu. Kedewasaan dan kecerdasan anak-anak akan terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Tantangan bagi para ustadz dan ustadzah adalah manusia jaman sekarang lebih suka memakai makna konotasi sebuah kata atau frase kata daripada makna denotasi. Para pengajar Quran harus sabar dalam menjelaskan setiap kata ambigu yang berpeluang menimbulkan multitafsir bagi anak-anak. Selamat berkreasi dalam mengajar!












