Kesalahan Membaca Al-Quran #2 : Tergesa-gesa Menyelesaikan Bacaan

kegiatan santri agama Islam di Jombang

kegiatan santri agama Islam di Jombang

Apa kabar kawan-kawan ustadz dan ustadzah di seluruh Indonesia? Artikel The Jombang Taste kembali hadir menyapa Anda. Pada artikel sebelumnya saya telah membagi pengetahuan kesalahan membaca Al-Quran yang pertama, yaitu tidak sesuai mizan atau panjang pendek bacaan. Artikel kali ini merupakan lanjutan dari artikel pertama. Kesalahan kedua ketika anak-anak santri TPQ membaca Al-Quran adalah tergesa-gesa menyelesaikan bacaan sampai huruf terakhir.

Anak-anak santri membaca bacaan Quran dengan tergesa-gesa memang sepertinya sudah menjadi sifat alami mereka. Ingat iklan sabun tangan Lifebuoy di televisi? Nah, seperti itulah gambarannya. Mereka ingin cepat menyelesaikan tugas membaca Al-Quran sesegera mungkin. Dan memang sudah menjadi sifat dasar anak-anak bahwa mereka tidak bisa ‘main halus’, kebanyakan anak-anak ingin melakukan segala sesuatu dengan cepat.

Memang ada sebagian santri yang memiliki karakter kalem. Mereka inilah yang bisa mengendalikan nada bacaan sehingga tidak tergesa-gesa. Contohnya dalam metode bimbingan belajar membaca kitab suci Al-Quran At-Tartil, bacaan antara Tartil Jilid 1 sampai 4 diusahakan dibaca oleh anak-anak sebanyak tiga kali. Anak-anak seringkali membaca dengan cepat sehingga terdengar seperti orang sedang bercakap-cakap, bahkan sedang adu mulut.

Bacaan Bernada Ketukan dan Aba-aba Dirijen

Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah tergesa-gesa membaca Quran yang dilakukan oleh santri? Cara pertama adalah dengan memberikan nada bacaan Quran. Nada bacaan Al-Quran bermacam-macam jenisnya. Saya sendiri mengenal setidaknya dua nada dan sudah saya praktekkan, yaitu nada tartil dan nada tilawati ala Siti Hajar. Ketika membaca Quran dengan menggunakan nada, maka anak-anak seolah diajak bernyanyi bersama. Efeknya, mereka lebih tenang dalam membaca.

Cara kedua menyikapi kecepatan bacaan yang tergesa-gesa adalah dengan mengajari anak mengenai panjang-pendek ketukan nada. Teknik simpelnya adalah dengan cara mengetuk meja. Ketukan berirama tetap akan menghasilkan kontinuitas bacaan. Selain ketukan meja, Anda juga bisa mengajarkan dengan menggerakkan jari telunjuk layaknya conductor atau dirijen sebuah konsel musik. Ketentuan yang perlu diingat adalah panjang satu huruf sama dengan dua ketukan. Dua huruf sama dengan empat ketukan. Dan seterusnya.

Saya sendiri lebih suka memakai cara kedua dalam mengajar santri. Saya terbiasa mengajar dengan membaca spidol warna hijau. Spidol itu berfungsi ganda. Selain untuk memberi nilai pada hasil tulisan atau khot anak-anak, juga saya pakai layaknya tongkat conductor konser musik. Jangan heran kalau Anda lihat saya sedang mengayunkan spidol naik-turun di depan anak-anak. Itu artinya saya memberi aba-aba kepada mereka mengenai panjang pendek huruf sehingga anak-anak tidak tegesa-gesa waktu membaca Quran.

Selain dua cara di atas, Anda dapat berkreasi dengan cara lain agar kecepatan anak-anak lebih terkontrol dalam membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Bagaimanapun juga membaca Quran hendaknya dilakukan dengan tenang, tidak terburu-buru, dan tidak tergesa-gesa sehingga panjang pendek kalimat bisa dirasakan. Dengan demikian, makna yang dihasilkan oleh ayat tersebut juga tidak melenceng dari isi Al-Quran yang sebenarnya. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan Anda. Selamat mengajar santri TPQ!

About Agus Siswoyo

Warga Jombang, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo. Matur nuwun!
This entry was posted in Islam and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply