Sesudah setan menyesatkan orang-orang yang mengaku zuhud dalam meninggalkan urusan dunia, setan juga menyesatkan manusia dalam urusan makanan dan adab berpakaian. Dibisikannya bahwa zuhud itu meninggalkan yang halal dan berlaku menyepi dengan meninggalkan kehidupan layaknya manusia normal. Maka diantara mereka ada yang hanya makan roti saja, ada pula yang tidak makan buah-buahan.
Dan diantara mereka ada yang menyedikitkan makanan sehingga badannya kering dan nutrisi ke otaknya juga berkurang. Mereka menyiksa diri dengan memakai baju bulu dan tidak mandi dengan air dingin. Perbuatan tersebut bukanlah sunnah atau perjalanan Rasulullah SAW dan bukan pula kebiasaan sahabat-sahabatnya dan pengikutnya. Tetapi ahli zuhud melakukan hal tersebut karena mengikuti bisikan setan.
Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya memang pernah lapar, yaitu apabila tidak ada makanan di rumahnya. Tetapi apabila ada, maka mereka makan. Malah Rasulullah SAW makan daging dan daging adalah makanan yang disukainya. Beliau juga makan daging ayam, suka makan manisan dan mandi dengan air dingin yang tidak mengalir.
Nyatalah perbuatan orang-orang zuhud itu menyalahi hadist Nabi Muhammad berikut ini:
“Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atasmu”.
(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
Islam Menyukai Keindahan Dan Kebersihan
Terkadang setan membisikkan kepada di zahid (orang yang melakukan zuhud), supaya ia memakai pakaian yang koyak-koyak, kotor dan tidak dijahit. Dibiarkannya qamis, jubah dan serbannya tidak bersih, dan janggutnya tidak terurus supaya dipandang orang bahwa dia betul-betul tidak suka kepada dunia, menjauhkan kesenangan dunia dan tidak menuntut dunia.
Kegiatan tersebut termasuk dalam bagian riya’ sekalipun ia mengemukakan alasan yang kedengarannya benar waktu ditanya tentang tujuannya berbuat demikian. Seperti Dawud Ath-Tha-i waktu ditanya, mengapa ia tidak membereskan janggutnya, dijawabnya, bahwa jenggotnya itu mengganggu kewajibannya. Maka dengan jawaban itu dapat diketahui bahwa dia sudah berlaku tidak beres, atau berjalan di jalan yang tidak benar, karena bukan ini jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh dalam hal berpakaian dengan menyisir rambut, bercermin dan berkaca muka, dan memakai minyak dan wangi-wangian. Perilaku tersebut dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW walaupun beliau amat mementingkan akhirat, dan tidak ada makhluk yang lebih mementingkan kehidupan akhirat daripada beliau.
Begitu juga dengan Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khatab berbuat seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad, dan mereka adalah manusia yang paling zuhud. Maka barang siapa yang menganggap derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad dan para sahabat, atau menganggap perbuatannya lebih utama daripada perbuatan Nabi dan para sahabat, adalah anggapan yang keliru dan tidak benar.
Semoga tulisan ini bisa menambah motivasi hidup Anda dalam menjalankan ajaran Islam di dunia.














Pingback: Mengapa Muslim Dilarang Menyilangkan Jari Tangan Ketika di Masjid? | Agus Siswoyo's Journal
Pingback: Keledai dan Anjing Adalah Hewan Yang Bisa Melihat Setan | The Jombang Taste
Pingback: Godaan Setan Dalam Perkara Kebatinan Kaum Majusi | The Jombang Taste
Pingback: Godaan Setan Dalam Sholat, Setan Menyelinap di Shaf Renggang | The Jombang Taste
Pingback: Adab, Ketentuan dan Sunnah Berwudlu | The Jombang Taste
Pingback: Iblis dan Setan Satu Jenis, Perbedaan Keduanya Hanya Pada Sebutan | The Jombang Taste
Pingback: Etika Berhias Menurut Teladan Nabi Muhammad SAW | The Jombang Taste