Ahli-ahli zuhud terkadang dibisiki setan bahwa paling baik baginya untuk menjauhkan diri dari dunia dan pengaruhnya itu adalah dengan menyendiri di masjid. Setan juga menganjurkan para zahid (orang yang melakukan zuhud) untuk mengasingkan diri di pondokan yang mereka namakan ribath, atau pergi ke gunung-gunung dan tempat sunyi.
Alasan yang dikemukannya adalah kalau mereka keluar takut melihat perbuatan yang mungkar dan berakibat menambah dosa. Dalam proses zuhud tersebut, setan telah membisikkannya sehingga dalam penyisihan diri itu mereka memiliki beberapa tujuan menyimpang dari ajaran Islam. Padahal makna zuhud yang dimaksudkan dalam Islam bukan demikain.
Salah satu tujuan setan menyesatkan kelompok zuhud adalah menumbuhkan sikap takabur atau sombong, membesarkan diri di hadapan manusia lain, dan menghinakan manusia yang tidak sejalan sejalan dengan pikirannya. Setan menumbuhkan rasa ketakutan kapada zahid kalau orang-orang tidak mau menghambakan diri kepadanya, maupun menjaga kebesarannya sebagai orang yang zuhud jangan sampai jatuh.
Sebab kalau mereka keluar, harga dirinya dan kehebatannya tentu berkurang atau jatuh. Mungkin juga karena takut aib, cela cacatnya, atau kebodohannya diketahui oleh orang banyak. Begitu hebatnya setan membisikkan dan menggoda di zahid sehingga mereka terperosok ke dalam perbuatan dosa besar.
Oleh sebab itu, mereka senang benar kalau tempat mereka diziarahi, padahal mereka tidak pernah ziarah. Apalagi kalau yang berziarah tersebut para pejabat, dan lebih disukai kalau orang banyak berada di sekitarnya dan mencium tangannya, serta meminta berkatnya.
Dengan cara hidup zuhud tersebut, mereka telah meninggalkan beberapa fardhu kifayah. Misalnya menjenguk orang sakit dan melawat orang yang meninggal. Bila ditanya orang, mengapa ia mengasingkan diri, maka pengikut-pengikutnya dapat saja memberikan jawaban bahwa yang demikian itu sudah menjadi adat kebiasaan golongan zuhud.
Benarkah adat melakukan zuhud sesuai ajaran Islam? Zuhud dengan cara meninggalkan masyarakat menyalahi hukum syara’ karena timbulnya sifat riya’ dan takabur yang dimilikinya akan menyiksanya nanti di akhirat. Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
“Tidak masuk surga orang yang ada di dalam hatinya seberat semut dari sifat takabbur”. (Hadist riwayat Muslim dan Tirmidzi).
Semoga artikel ini bisa memberi tambahan motivasi Islami untuk Anda.














Pingback: Setan Menyesatkan Manusia Dalam Perkara Makanan dan Pakaian | The Jombang Taste
Pingback: Keledai dan Anjing Adalah Hewan Yang Bisa Melihat Setan | The Jombang Taste
Pingback: Inilah Kenikmatan Menjadi Penduduk Surga Akhirat | The Jombang Taste
Pingback: Godaan Setan Dalam Perkara Tasawuf, Sufi dan Zuhud | The Jombang Taste
Pingback: Ashhabush Shuffah Bukan Ahli Tashauwuf Dan Shufi | The Jombang Taste
Pingback: Iblis dan Setan Satu Jenis, Perbedaan Keduanya Hanya Pada Sebutan | The Jombang Taste
Pingback: Setan Bersikap Takabur dan Menjadi Musuh Nyata Bagi Manusia | The Jombang Taste