Ulama dan Ustadz Sibuk Sendiri, Santri TPQ Jadi Korban

Keceriaan Bernyanyi Bersama Anak-anak Santri TPQ Al-Mujahidin

Keceriaan Bernyanyi Bersama Anak-anak Santri TPQ Al-Mujahidin

Saya telah kembali ke kehidupan desa sejak setahun yang lalu. Lalu selama lima bulan terakhir saya aktif dalam pendidikan Islami, khususnya pengajaran Al-Quran pada anak-anak. Dari berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini akhirnya saya berkesimpulan: sungguh memprihatinkan nasib pendidikan Islami di desa saya. Anak-anak menjadi korban dari aksi cari muka dan cari nama yang dilakukan oleh para ulama, pengurus, dan ustadz/ustadzah itu sendiri.

Ceritanya begini, kepengurusan Taman Pendidikan Quran (TPQ) Al-Mujahidin sudah terbentuk sejak bertahun-tahun lamanya. Waktu pastinya kapan saya nggak tahu. Saya meninggalkan desa tercinta ini selama 7 tahun dan ketika kembali ke desa sudah mendapati kenyataan yang agak asing di mata saya. Ketua TPQ saat ini merupakan anak dari ketua ta’mir masjid di desa saya. Dia ditunjuk menjadi ketua TPQ pun karena permintaan orangtuanya, bukan karena kemauan para peserta rapat.

Celakanya, ketua TPQ saat ini tidak memiliki kompetensi dan tanggungjawab apapun untuk menjalankan tugasnya. Jangankan memikirkan perkembangan pendidikan santri, menjenguk kelas TPQ pun jarang dilakukan. Dan seingat saya, selama saya mengajar di kelas TPQ tersebut belum pernah ada anggota pengurus yang meninjau lokasi. Mereka sibuk dengan pekerjaan cari uang sendiri. Giliran ada isu dana bantuan Pemerintah mau diturunkan, mereka langsung sibuk nyerobot duluan.

Tidak Ada Komunikasi dan Aksi Pengurus TPQ

Saya nggak menuntut para pengurus TPQ untuk setiap hari datang ke lokasi pengajaran santri. Saya hanya berharap minimal seminggu sekali para pengurus TPQ, khususnya ketua dan wakil ketua, mengajak komunikasi para pengajar untuk membahas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pengajar dan anak didik. Ingat, masalah pendidikan Islam bersifat komplek karena menyangkut kebutuhan di dunia dan di akhirat. Kalau tidak ada inovasi pengajaran, bisa-bisa para santri mati kebosanan.

Masalah berikutnya adalah mengenai kuantitas dan kualitas ustadz dan ustadzah pengajar TPQ. Sepengetahuan saya, jumlah pengajar Quran di TPQ ini ada 6 orang. Namun dari 6 orang tersebut yang aktif hanya 4 orang. Dari 4 orang itupun nggak semuanya bisa masuk secara bersamaan. Yang sering terjadi adalah hanya ada 3 guru pengajar Quran yang stand dan siap membimbing santri. 3 guru untuk 80 orang murid di 5 kelas yang berbeda, merupakan keadaan yang tidak ideal sebuah pendidikan yang berprospek cerah.

Kadangkala saya mengelus dada sambil mengucap istighfar. Apakah kondisi runyam ini merupakan trend yang umum terjadi di semua TPQ di Indonesia. Ataukah ini hanya kejadian spesifik yang menimpa TPQ di desa saya. Jika para pengurus hanya gemar mencari nama dan menuruti ego sendiri, maka santri TPQ yang akan menjadi korban. Jadwal belajar mereka kacau, tidak ada perencanaan program pengajaran, dan lemahnya suri teladan yang baik.

Semoga artikel ini bisa menjadi pembelajaran penting bagi kita bersama. Bahwa mendidik anak-anak adalah tugas penting yang harus dilakukan dengan penuh tanggungjawab. Jangan sampai anak-anak kehilangan moment berharga mereka untuk mengecap pendidikan agama dengan baik. Wassalam.

About Agus Siswoyo

Warga Jombang, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo. Matur nuwun!
This entry was posted in Islam and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Ulama dan Ustadz Sibuk Sendiri, Santri TPQ Jadi Korban

  1. Pingback: Menemukan Motivasi Hidup Dari Mengajar Siswa | Catatan Motivasi Blogging Indonesia

Leave a Reply