Dibutuhkan: Guru TPQ Disiplin dan Bersedia Tidak Digaji

Kesalahan Membaca Al-Quran #1 : Tidak Sesuai Mizan

Kesalahan Membaca Al-Quran #1 : Tidak Sesuai Mizan

Salah satu kendala utama dalam pengembangan pengajaran Quran bagi anak-anak adalah terbatasnya sumber daya pengajar atau guru. Jumlah ustadz dan ustadzah yang bersedia mengajar santri TPQ sangat terbatas. Terlebih lagi guru yang memiliki disiplin tinggi untuk mengajar tepat waktu dan sesuai dengan program pengajaran yang telah dibuat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ini merupakan sebuah pertanda makin dekatnya hari akhir?

Alasan pertama mengapa tidak banyak anak muda, bahkan orang tua, yang bersedia menjadi pengajar Quran dalam Taman Pendidikan Quran (TPQ) adalah karena faktor gaji. Bukan rahasia lagi bahwa menjadi guru TPQ tidak mendapat gaji. Contohnya TPQ Al-Mujahidin di Desa Guwo Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Wali santri tidak dipungut biaya apapun selama anak-anak mereka belajar mengaji disana. Kalaupun ada bayaran guru ngaji, itu berlangsung setahun sekali saat jelang Lebaran Idul Fitri dengan dana saweran.

Sedangkan alasan kedua pendidikan Islami di TPQ tidak maju adalah rendahnya kualitas SDM guru. Guru yang dihasilkan kebanyakan tidak melalui proses pembinaan yang baik. Mereka malas mengikuti kelas Pembinaan Guru Pengajar Quran (PGPQ) dan mengandalkan persediaan ilmu seadanya yang telah mereka miliki. Payahnya lagi, para guru TPQ gagal memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Mereka gagal menjadi pengajar, juga gagal menjadi guru dalam kehidupan.

Al-Quran Melakukan Seleksi Alam

Nah, saat ini ribuan TPQ di Indonesia memiliki nasib yang serupa dengan TPQ Al-Mujahidin di desa tempat saya tinggal. TPQ membutuhkan guru yang memiliki dedikasi dan disiplin tinggi namun bersedia tidak dibayar. Apakah ada guru seperti itu? Tanpa bermaksud bersikap pesimis terhadap kemajuan pendidikan Islami di Indonesia, kiranya hanya seleksi alam yang akan menyaring siapa saja guru yang mampu memberikan kontribusi secara ikhlas tanpa mengharap imbalan jasa.

Salah satu kisah inspiratif yang dibagi oleh Ustadzah Ba’i Rohaini dalam PGPQ Mojowarno beberapa waktu lalu adalah Al-Quran akan memilih sendiri siapa saja manusia yang akan menjadi pelestarinya. Sebesar apapun usaha manusia dan dukungan Pemerintah, hal tersebut tidak akan mampu menggugah hati nurani para guru selama tidak ada keikhlasan dari para guru pengajar Quran.

Sebagai seleksi alam, Al-Quran akan selalu menyaring setiap guru Quran hingga akhirnya didapatkan guru unggul dan berkualitas. Dan makin mendekati akhir zaman, jumlah pelestari Al-Quran makin sedikit. Kiranya hal ini bisa menjadi renungan bagi kita bersama. Semoga saya dan Anda termasuk dalam kelompok pengajar Quran berkualitas tinggi sehingga mendapat tempat yang terdekat dengan Allah SWT di akhirat kelak. Amin.

About Agus Siswoyo

Warga Jombang, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo. Matur nuwun!
This entry was posted in Buku Harian and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply