Lima Tahun Yang Singkat

Andai saya masih kerja di Doremi Pizza, hari ini adalah tepat lima tahun saya bergabung disana. 24 Desember 2005. Ya, saya masih ingat betul moment itu. Bergabung dengan dunia yang benar-benar baru dan asing saya. Bukan hanya asing secara profesi, namun juga perubahan pola hidup, cara berpikir dan bersikap.

Seorang pemuda kampung yang masih lugu dan tidak tahu what’s the life, saat itu secara perlahan mendapat amanat memegang salah satu posisi vital di perusahaan waralaba yang tengah dirintis. Perjalanannya panjang. Sepanjang liku-liku yang saya hadapi.

Akhir Desember di Sepanjang. Lalu dua bulan kemudian dipindah ke tim pusat di Wisma Tropodo. Penuh tantangan, intrik, konflik dan juga hal menarik. Mulai dari cinta segitiga yang menghebohkan dunia persilatan. Hahaha… Lebay: detected. Bikin heboh karena masalah hati ini penyelesaiannya melibatkan big boss. Saya harus melakukan konfrontasi krusial agar masalah ini benar-benar clear dan tidak menimbulkan efek bagi kinerja perusahaan.

Selain itu, sentimen pribadi tak luput dari masalah. Yaa, jiwa muda yang tidak pernah mau mengalah. Ingin selalu benar dan terlihat gagah. Dalam masa ini saya kena batunya karena mempercayakan tanggungjawab kepada orang yang salah. Bahkan hingga detik ini saya belum pernah bertemu orang yang didepak karena kecurangan, meski hanya untuk bertegur sapa.

Pengembaraan Dimulai dari Probolinggo

Ternyata langkah kaki saya tidak berhenti sampai disitu. Hanya tiga bulan kemudian saya mesti tinggal di Probolinggo untuk jangka waktu yang lama. Tugas saya lumayan berat: membuka wilayah baru. Dasar saya orangnya cuek dan punya rasa ingin tahu yang tinggi, tawaran bekerjasama dengan kawan-kawan Madura saya terima.

Jadi selama di Probolinggo saya diajari kehidupan keras warga Madura yang kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Berbicara, bersikap dan melakukan kontak fisik ala mereka. Lumayan menantang juga. Untungnya saya punya team work yang lumayan tangguh. Mereka yang support saya dalam membangun bisnis waralaba pizza.

Lepas dari Probolinggo, saya tidak berhenti di Surabaya. Kali ini kota tujuan saya adalah Lumajang. Kalau dari Probolinggo lumayan dekat, kira-kira satu jam perjalanan darat. Disinilah saya kembali bertanggungjawab membuka lahan baru untuk memperkenalkan pizza dan burger sebagai makanan cepat saji pilihan warga sekitar gunung Bromo.

Lumajang juga menjadi saksi bisu kisah cinta lokasi yang saya jalani. Hahaha, mulai deh mellow. Singkat cerita, saya kagum pada crew admin Lumajang. Tiap bertatap muka, saya selalu salah tingkah. Ini juga yang menjadikan saya betah tinggal disana selama berbulan-bulan nggak pulang kampung. Hehehe. Namun sayang, saya kalah cepet. Cewek yang saya taksir keburu diambil orang. Ya nasib! Memang, siapa cepat dia dapat.

Tangan Dingin Manajemen Pusat

Next, usai dari Lumajang saya dipanggil kembali ke pusat. Tanggungjawab bukannya ringan, malah tambah berat. Namanya juga bisnis yang baru dirintis, manajemen belum tertata rapi dan perlu banyak perbaikan. Apalagi bisnis waralaba saat itu tengah mengalami booming. Puluhan orang berbondong-bondong mengajukan aplikasi kerjasama.

Saya keteteran juga awalnya. Sebagian besar hari saya dibikin puyeng dengan usaha menciptakan sistem yang tepat dalam hal purchasing, processing, distribution, hingga trouble solving anak-anak di lapangan. Kekuatan otak saya benar-benar diuji saat itu. Meski banyak pro dan kontra tentang penunjukkan saya sebagai leader PH, saya cuek saja dan membalikkan anggapan miring sebagian orang yang meragukan kapasitas dan kapabilitas saya dalam manajemen perusahaan.

Yang paling krusial menurut saya adalah waktu harus membuat sistem akuntasi yang tepat untuk model bisnis waralaba makanan cepat saji pizza. Saya tidak pernah kuliah akuntasi dan manajemen. Hanya bermodalkan pengetahuan dasar komputer waktu masih di SMA saya mulai membuat sistem secara bertahap. Sekitar awal tahun 2008 akhirnya sistem tersebut sudah fix dan bisa dijalankan.

Ahh, kalau mengingat perjuangan waktu itu, saya bersyukur sekali dengan keadaan saat ini. Mungkin kini saya sudah tidak berada di samping mereka, namun saya bangga sudah bisa meninggalkan kenangan manis untuk dimanfaatkan dalam kerja sehari-hari mereka. Semoga karya saya akan awet dipakai. Syukur-syukur kalau ada suksesor yang bersedia mengembangkan.

I’ll always miss you, pizzaholic!

About Agus Siswoyo

Warga Jombang, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo. Matur nuwun!
This entry was posted in Buku Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply