Menikah Bukan Ukuran Kedewasaan

newspaper-man-615 KOLEKSI GAMBAR BERGERAK YANG UNIK DAN LUCU DARI WEBURBANIST

newspaper-man-615 KOLEKSI GAMBAR BERGERAK YANG UNIK DAN LUCU DARI WEBURBANIST

Masyarakat Jawa mengatakan bahwa seorang anak akan disebut “wong” (wong artinya manusia) bila sudah menikah. Selama dia belum menikah maka tidak akan dianggap manusia. Nah loh, kalau tidak dianggap manusia, memangnya disebut hantu? Hehehe. Itulah simbol yang dipakai warga keturunan Jawa untuk menyatakan kedewasaan seseorang. Orang tua akan merasa bangga kalau anaknya telah menikah semua. Itu berarti anaknya sudah menjadi wong.

Harapan mereka sih, dengan menikah maka akan mencetak karakter anak menjadi lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan. Sehingga sangat lazim berlaku bahwa pernikahan dijadikan ukuran untuk menilai seseorang telah dewasa atau tidak. Namun dalam faktanya tidak selalu terjadi demikian. Memang sebagian besar orang akan menjalani proses pendewasaan secara alami seiring makin kompleknya masalah hidup yang dialami. Selebihnya, tergantung masing-masing orang dalam menyikapi hidup.

Definisi dewasa sendiri sangat beragam dan tiap orang bisa menyampaikan pendapatnya sesuai kapasitasnya. Dewasa bukan dilihat dari postur tubuh, cara bicara maupun kebiasaan nonton film dewasa :) Lebih dari itu, dewasa adalah gabungan dari ketepatan sikap dalam mengambil keputusan dan kemampuan menyeimbangkan keadaan (timbang rasa) terhadap posisi orang lain. Aktifitas orang yang telah menikah dianggap masyarakat telah mewakili pengertian dewasa secara utuh, dan ini menjadi cara yang keliru bagi orang tua dalam membentuk karakter anak menuju kedewasaan.

Keterbelakangan Mental Secara Tersembunyi

Ada juga lho orang yang sudah menikah bertahun-tahun dan memiliki anak tetapi tidak mengalami perkembangan mental. Cara berpikirnya tetap saja begitu. Memiliki anak dan pasangan hidup tidak menjadikannya lebih bijak menilai permasalahan yang ada. Kalau boleh disebut, dia mengalami keterbelakangan mental. Maaf kalau istilah tersebut terdengar kasar. Namun itulah gambaran saya saat memandang orang yang gagal mencapai proses pematangan pola berpikir.

Penyebabnya bisa bermacam-macam. Saya bukan psikolog yang ahli dalam hal ini, namun dalam pandangan saya, riwayat masa kecil turut mempengaruhi pendekatan berpikir seseorang ketika menginjak masa remaja hingga menjelang paruh baya. Masa kecil yang dimanja dan tidak melewati pengajaran yang tepat akan menghasilkan kebuntuan berpikir karena tidak ada proses belajar dalam menggali nilai-nilai kehidupan.

Bagaimana menghadapi orang yang telat dewasa? Sebaiknya mereka tidak disingkirkan dalam pergaulan. Lebih baik kita menerima mereka apa adanya sambil terus membantu mengembangkan kemampuan-kemampuan dalam berinteraksi dengan masyarakat. Dibutuhkan sejuta kesabaran dalam membimbing mereka untuk menemukan bentuk terbaik sebagai manusia dewasa yang mampu bertingkah laku dengan bijak. Mari kita bantu mereka.

About Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo.
This entry was posted in Buku Harian and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Menikah Bukan Ukuran Kedewasaan

  1. Tidak segampang itu untuk menikah, jangankan menikah untuk berpacaran saja saya rasa kita harus memikirakan lebih dalam .. jika hanya sekedar cari pacar sih oke oke saja gonta ganti, tapi kalo mau serius pacaran … think about it

    Regards

  2. Gustavie says:

    wah,,bener juga tuh saya setuju karena untuk masalah nikah itu tergantung kesiapan dari masing2 anak, ga sedikit anak yang belum siap menikah karena di nikahkan malah jadi brutal dan tidak karuan tingkah lakunya

    mampir ke blog saya yah mas ^^ hehe

    http://gustav-econimics.blogspot.com/2011/10/lebih-dari-200-ribu-iphone-4s-terjual.html

  3. Anto says:

    minimal kalau sudah menikah bisa tersalurkan kebutuhan biologisnya. :)

  4. Grosir Baju Anak says:

    saya yang sudah beranak dua aja masih suka sama cewek ABG kok. hahaha.

  5. tutorial google adsense says:

    Saya awalnya juga masih cupu. Habis nikah jadi lebih ngerti. Paling tidak bisa menggauli isteri dengan benar. :)

  6. artikel yang bagus dan bermanfaat.

Leave a Reply