Memiliki niat baik saja belum cukup untuk bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat di sekitar kita. Kita membutuhkan dua faktor penting lainnya, yaitu perjuangan dan pengorbanan. Mengapa niat baik saja tidak cukup untuk bisa melaksanakan sebuah cita-cita mulia untuk kebaikan bersama? Karena kita hidup dengan beragam karakter manusia. Isi kepala mereka tidak selalu sama dengan isi pemikiran kita. Mereka memiliki kepentingan yang tidak sama.
Kita bisa bersenang hati bila orang-orang memahami ide kita dan mereka bersedia mendukung langkah kita. Berkat dukungan mereka, proses perjuangan dan pengorbanan yang kita lakukan akan terasa lebih mudah dijalankan. Lantas, bagaimana jadinya jika antar individu tidak sepakat dalam satu kata, bahkan mereka menentang rencana kita. Apakah kita lalu mengundurkan langkah dan mengibarkan bendera putih? Adakah hikmah di balik segala halangan dan rintangan yang kita hadapi?
Artikel ini terinspirasi dari polemik ‘mati suri’ Taman Pendidikan Quran (TPQ) Al-Mujahidin yang ada di tempat tinggal saya. TPQ ini masih berjalan dengan sisa-sisa nafasnya. Kalau dibilang sudah hilang kok ya keterlaluan karena dalam kenyataannya tiap sore masih ada santri yang belajar mengaji. Tapi kalau dibilang hidup kok ya berlebihan karena dalam pekan pertama saya mengajar tidak ada perkembangan yang signifikan. Hal ini telah berlangsung selama beberapa bulan yang lalu.
Motivasi Untuk Para Pengajar Quran
Sebagai seorang ‘pendatang’ di lingkungan TPQ Al-Mujahidin, saya menawarkan solusi alternatif untuk memajukan pendidikan Islami untuk anak-anak di sekitar Masjid Baitussalam Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Apa mau dikata, niat baik yang saya sampaikan tidak mendapat respons kawan-kawan sesama pengajar. Pengurus TPQ juga tidak mau tahu perkembangan TPQ. Mereka sibuk bekerja untuk menghidupi anak-isterinya.
Dua proses selanjutnya adalah memperjuangan secara pribadi dengan disertai pengorbanan. Saya tahu ini bukan perkara mudah. Ustadz Irmawan sebagai salah satu pengajar PGPQ Mojowarno pun menyatakan hal serupa. Sungguh tidak mudah memperjuangkan pengajaran Al-Quran di akhir zaman ini. Ustadz Irmawan tahu betul suka-duka menjadi pengajar TPQ di tengah modernisasi masyarakat dan himpitan kebutuhan ekonomi yang makin tak terkendali.
Kabar indah bagi para ustadz dan ustadzah adalah Al-Quran akan memberikan syafa’at bagi setiap orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. Syafa’at Al-Quran diberikan bukan hanya di akhirat kelak, tetapi juga saat manusia tersebut hidup di dunia ini. Sungguh Allah Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak. Ustadz Irmawan sendiri merasakan banyak keajaiban dalam hidupnya sehingga profesi menjadi guru Quran memberinya kebahagian membangun rumah tangga dan membesarkan anaknya.
Bila niat baik telah kita miliki, maka perjuangkan sebaik-baiknya dengan ikhlas berkorban apa yang kita miliki. Jika tidak mampu berkorban dengan harta, maka kita bisa membantu dengan tenaga, pikiran maupun bentuk sumbangsih lainnya. Walaupun kelak kita akan menemui banyak halangan, insyaallah akan dimudahkan jalan oleh-Nya. Semoga artikel ini bisa memberi inspirasi bagi Anda.














Pingback: Kumandangkan Lirik Syair Shalawat Tarhim Subuh Untuk Syiar Islam | The Jombang Taste
Pingback: Susahnya Mencari Guru Yang Bisa Mengajar Murid Dengan Ikhlas | The Jombang Taste
Pingback: Meneladani Nabi Muhammad SAW dan Kandungan Kitab Suci Al-Qur’an | BMQ At-Tartil Kec. Mojowarno Kab. Jombang