Uji Nyali Pengendara Bus Di Jalur Maut Gunung Muria

Gambar Ilustrasi - Uji Nyali Pengendara Bus Di Jalur Maut Gunung Muria

Gambar Ilustrasi - Uji Nyali Pengendara Bus Di Jalur Maut Gunung Muria

Kali ini saya mau berbagi cerita sisi lain dari perjalanan lima hari tour wisata religi ke wali songo. Setelah melalui sejumlah tujuan makam wali, singkat kata rombongan saya ini menuju makam Sunan Muria yang terletak di puncak Gunung Muria. Habis dari makam Sunan Kudus di kota Kudus, bus menuju ke arah utara ke pegunungan Muria. Secara administratif, wilayah gunung Muria termasuk dalam tiga kota Jepara, Kudus dan Pati. Namun yang ini Kudus daerah pegunungan. Setelah lima belas menit melalui jalan datar, bus menuju jalan pegunungan yang menanjak dan terjal.

Entah apa alasannya, lokasi makam kok tepat di atas puncak gunung. Saya lihatnya dari bawah sudah merinding duluan. Nggak bisa bayangkan bagaimana harus mendaki gunung sampai kesana. Bahkan saat naik bus itupun saya cuma bisa pasrah kepada kemampuan pak sopir dalam mengendarai bus. Dalam hati saya berdoa: Ya Allah, saya tidak ingin mati karena tergelincir jalanan terjal ini. Rute menanjak ini berlangsung lamaaa sekali. Kurang lebih satu jam. Dan selama itu pula saya sport jantung.

Tikungan tajam dengan disertai tanjakan adalah tantangan tersendiri bagi pengendara kendaraan mobil ataupun bus. Saya bergumam dalam hati, ini kalau ban mobilnya nggak bagus bisa-bisa mobil nggak bisa jalan maju alias mundur. Untungnya waktu itu ban mobil yang dipakai bus itu dalam kondisi prima. Apalagi ditunjang kemampuan menyetir yang sudah andal, jadi deh saya dan rombongan nggak khawatir lagi.

Jalan Berliku dan Tanjakan Terjal

Jalur menantang di pegunungan Muria mengingatkan saya kepada jalan raya dari kota Jombang menuju Malang. Kondisinya sangat mirip, yaitu tanjakan terjal dan berliku-liku. Uniknya, bus yang beroperasi untuk jalur Jombang-Malang dibuat dalam versi bus mini. Kondisi badan bus yang tidak besar sangat membantu dalam melakukan manuver tanjakan, turunan, dan belokan. Meski demikian kita harus tetap hati-hati saat bepergian melewati jalur ini. Sudah banyak korban jiwa melayang akibat kondisi jalan yang tidak rata.

Sebaliknya, kalau saya ingat-ingat lagi dan ditambah penuturan para tetua, sangat jarang terjadi kecelakan di daerah gunung Muria. Entah hal ini ada hubungannya dengan niat mulia para peziarah atau memang karena sopir bus memang telah berpengalaman, perjalanan kesana umumnya dalam kondisi lancar. Bus yang ditumpangi boleh saja tampilannya jelek, namun performa mesin yang dipakai terbukti tangguh untuk medan yang menantang.

Sepertinya ada daya dorong tambahan yang dihasilkan dari sholawat yang diucapkan oleh para penumpang. Yup, tiap kali mau naik tanjakan, pak kyai yang memimpin rombongan memberi aba-aba kepada penumpang dan peziarah untuk membaca sholawat secara bersama-sama. Mungkin hal inilah yang tidak dilakukan oleh kebanyakan penumpang bus sehingga kerapkali terjadi kecelakaan yang berimbas kepada hilangnya nyawa. Semoga posting ini bisa memberi inspirasi dan bermanfaat untuk pembaca blog ini.

About Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo.
This entry was posted in Buku Harian and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Uji Nyali Pengendara Bus Di Jalur Maut Gunung Muria

  1. rahmadianto says:

    subhanalloh! maha kuasa atas segala nasib hamba-Nya.

  2. taman bacaan says:

    Salam,
    sama-sama dari jombang.
    .
    & Tantangan yang menarik brada, asyik buat jalan-jalan.

  3. taman bacaan says:

    Numpang nitip link ya :

  4. Hakim says:

    siapa yang sungguh-sungguh berjalan atas nama agama, Allah pasti memberi ridho.

  5. tutorial google adsense says:

    alam yang menantang. asyik dijadikan uji nyali.

  6. Amateurduckie says:

    Bravo, la frase admirable y es oportuno

Leave a Reply