Asal Mula Terjadinya Danau Situ Lengkong di Panjalu

Asal Mula Terjadinya Danau Situ Lengkong di Panjalu

Asal Mula Terjadinya Danau Situ Lengkong di Panjalu

Situ Lengkong berasal dari dua kata, yaitu situ dan lengkong. Kedua-duanya memiliki arti yang sama, yaitu danau. Situ Lengkong terletak di desa Panjalu, kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Danau ini memiliki luas sekitar 64 hektar dan berada pada 700 meter di atas permukaan air laut. Kedalaman Situ Lengkong berkisar antara 4 sampai 6 meter. Kondisi alam sekitar Situ Lengkong sungguh menyenangkan. Perpaduan udara sejuk khas daerah pegunungan dan jauh dari polusi menjadikan saya betah berlama-lama di kawasan konservasi hutan alam ini.

Bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi Situ Lengkong sebagai bagian dari perjalanan tour ziarah Wali Songo. Saat itu saya mengamati sekeliling danau eksotik ini. Ada satu hal yang unik terdapat di Situ Lengkong, yaitu pulau kecil yang bernama Nusa Gede yang berada di tengah-tengah danau. Itu pulau asli lho, bukan pulau buatan seperti di Singapura. Ingatan saya langsung melayang ke danau Toba di Sumatera Utara yang memiliki pulau Samosir di tengah-tengahnya. Mirip sih, cuma yang di Situ Panjalu ini ukurannya lebih kecil.

Di sekitar danau Panjalu, demikian ucapan orang-orang untuk menyebut Situ Lengkong, terdapat banyak hasil kerajinan rakyat. Khususnya di desa Cukang Padung sebagai pintu masuk ke area wisata pulau Nusa Gede, kita bisa temukan penjual kerajinan tangan setempat. Misalnya berupa kipas bambu, makanan tradisional Parahyangan, terasi udang asli (penjualnya bilang itu asli), aneka bordir unik, gelang dari kayu, pena unik dari ukiran bambu, dan banyak oleh-oleh khas Ciamis lainnya. Bagi yang suka lapar mata saat window shopping, harap menyiapkan dompet tebal sebelum berangkat kesini. Dijamin Anda akan dimanjakan beragam oleh-oleh menarik khas Panjalu.

Tercipta Akibat Percikan Air Zam-Zam Dari Arab

Asal Mula Terjadinya Danau Situ Lengkong di Panjalu

Asal Mula Terjadinya Danau Situ Lengkong di Panjalu

Cerita rakyat yang berkembang selama ini mengenai proses penciptaan danau Panjalu cukup menarik perhatian saya. Menurut kisah warga setempat, air danau Situ Lengkong tercipta dari tetesan air zam-zam yang dibawa dari tanah suci Arab. Diceritakan terdapat seorang penyebar agama Islam di wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang bernama Syekh Panjalu. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan agama terbaik, beliau memperdalam ilmu agama langsung ke tanah Arab.

Setelah bertahun-tahun belajar agama di tanah Arab, Syekh Panjalu berniat kembali ke tanah Pajajaran. Untuk membuktikan bahwa pengetahuan agamanya telah mumpuni, guru Syekh Panjalu mensyaratkan harus membawa air zam-zam ke dalam keranjang yang berlubang-lubang dan air tersebut harus sampai dengan selamat di tanah Pasundan. Syekh Panjalu menyanggupi permintaan tersebut. Syekh Panjalu akhirnya berangkat dari tanah Arab menuju bumi Pasundan dengan membawa air zam-zam dalam keranjang.

Nggak usah dibayangkan bagaimana caranya, namanya juga legenda rakyat Panjalu. Hehehe. Singkat kata, air zam-zam dalam keranjang tersebut menetes selama perjalanan menuju Panjalu. Tetesan air zam-zam tersebut jatuh ke tanah di wilayah Panjalu saat ini. Ajaibnya, keranjang tersebut tak henti-hentinya mengalirkan air ke tanah di bawahnya hingga membentuk sebuah danau yang luas seperti saat ini. Puncak bukit yang tinggi di tengah-tengah danau membentuk sebuah pulau kecil yang bernama pulau Nusa Gede. Begitulah cerita rakyat yang berkembang dari mulut ke mulut sampai sekarang.

Keajaiban Air Danau Panjalu Bisa Sembuhkan Penyakit

Asal Mula Terjadinya Danau Situ Lengkong di Panjalu

Asal Mula Terjadinya Danau Situ Lengkong di Panjalu

Fakta yang terungkap di lapangan juga sungguh unik. Banyak orang yang percaya kalau air danau Situ Lengkong bisa menyembuhkan beragam penyakit yang diderita manusia. Hal ini didasarkan kepada kepercayaan masyarakat bahwa air danau Lengkong ini tercipta dari air zam-zam yang dikenal memiliki beragam khasiat. Entah ini sebuah mitos atau memang fakta yang kebetulan terjadi, pemandu wisata yang mengiringi rombongan wisata saya pun menyatakan air ini memiliki khasiat setara dengan air zam-zam.

Saat saya naik perahu berkeliling Situ Lengkong menuju Nusa Gede, saya masih ingat ada beberapa orang di samping saya yang tak henti-hentinya meraup air yang terdengar gemericik pada saat perahu motor berjalan di atas air. Kemudian mereka meraih segenggam air dan dipakai untuk membasuh muka. Mereka percaya air tersebut bisa menyembuhkan penyakit yang diderita. Misalnya penyakit gatal-gatal pada kulit, sakit linu pada kaki, jerawat, dan beragam sakit lainnya.

Untuk pengobatan penyakit luar, orang-orang biasanya hanya memakai air untuk membasuh bagian tubuh yang sakit saja. Atau kalau mau lebih mantap lagi biasanya dipakai mandi. Namun untuk pengobatan penyakit dalam, Anda tidak bisa langsung meminum air Situ Lengkong karena air danau ini kotor dan bercampur lumpur sehingga berwarna kecoklat-coklatan. Caranya adalah Anda mengambil air ini dan dimasukkan ke dalam wadah jerigen atau botol bekas air mineral. Diamkan air selama beberapa hari sampai terbentuk endapan lumpur dan menghasilkan air yang jernih pada bagian atas. Setelah itu boleh dipakai untuk minum ataupun dibasuhkan pada bagian yang sakit.

Itulah sejarah asal usul danau Situ Lengkong, atau lebih ngetop disebut Situ Panjalu, yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya. Mengenai kebenaran isi ceritanya silakan dikroscek langsung di tempatnya. Yang pasti, Indonesia punya banyak legenda rakyat, tradisi, adat istiadat, dan tempat-tempat wisata yang menarik dan harus dilestarikan. Mencintai budaya lokal adalah salah satu usaha terbaik dalam upaya melestarikan budaya nasional. Mari kita jelajahi kekayaan negeri sendiri!

About Agus Siswoyo

Warga Jombang, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo. Matur nuwun!
This entry was posted in Obyek Wisata and tagged , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Asal Mula Terjadinya Danau Situ Lengkong di Panjalu

  1. aji prast says:

    Tempatnya menarik mas, kalau transportasi umumnya gimana, mudah gak aksesnya?

  2. Pingback: Asal Usul dan Makna Dusun Cukang Padung | The Jombang Taste

  3. washington cheap hotel says:

    It is a money saver especially when you are visiting the city with your family and this will save you a few hundred dollars for a week. The rooms are quite spacious and the suits with guest rooms have some of the best facilities in the town.

  4. ferdi says:

    ini lengkong yang dekatnya kertosono itu ya?

  5. sebastian says:

    Kalau menurut saya, terjadinya danau adalah akibat terkumpulnya aliran air di dataran yang lebih rendah. Mengenai cerita rakyat tersebut, saya masih meragukan.

  6. Yurosie says:

    Aku pernah ke situ lengkong di Panjalu.. Indah banget pemandangannya.. Banyak di kelelawar (Kalong).

  7. blog bisnis online says:

    kelihatannya bagus. sayangnya saya belum pernah kesana.

  8. ARYA KENCANA says:

    Ngak Semuanya Bisa Dijelaskan Dengan Akal (Akliah)….!!!! Terima kasih Buat Mas Agus Yang Udah Angkat Semua Ke Permukaan.

  9. Pak Mukhlis Semarang (Ketua jamaah ziarah klipang semarang) says:

    1. Objek wisata panjalu rute dari bandung butuh waktu berapa jam dengan bus besar?
    2. Dari dermaga ke makam syeh panjalu naik perahu boat biaya berapa per orang?
    Terimakasih

    • Agus Siswoyo says:

      Hello Pak Mukhlis,

      1. Dari Bandung ke Panjalu, Kabupaten Ciamis butuh waktu kurang lebih 4 jam.
      2. Sewa perahu motor dari dermaga ke Pulau Nusa Gede dihitung Rp. 200.000 per perahu, bukan per orang.

      Semoga terbantu.

      • Virgo says:

        Salam kenal Mbak ikut nimbrung (dan ikut gnnbuig ) ya. Setahu saya, frasa pertama kenampakan alam atau lebih spesifik lagi kata kenampakan adalah bentuk turunan dari kata dasar tampak > menampak(-an) > kenampakan , dengan fungsi ke-an sebagai pembentuk kata benda (makna: membuat jadi tampak). Dalam contoh frasa tadi cenderung bermakna proses. Sedangkan frasa pemandangan alam dengan fokus pada kata pemandangan lebih mengacu kepada hasil memandang . Saya tidak tahu dalam konteks apa kedua frasa tersebut dipakai. Karena secara morfologis, bentukan kedua frasa itu benar dan berterima. Namun, secara semantis apakah bisa berterima? Sepertinya konteks di sini berperan penting untuk menentukan pilihan frasa mana yang akan dipakai, misalnya untuk ketiga contoh kasus kalimat di atas. Saya cenderung tidak memilih ketiganya, tetapi memilih pilihan kata lain yang lebih spesifik (hehe cari aman )

Leave a Reply