Ada pemandangan menarik pada acara peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur di Jombang akhir bulan September lalu. Kegiatan tahlilan yang dilangsungkan di lingkungan pondok pesantren Tebuireng tersebut umumnya diisi dengan beragam acara bernafaskan agama Islam. Namun pada sore harinya masyarakat Kabupaten Jombang dihibur dengan pertunjukan seni barongsai dari kebudayaan China. Apakah hubungan antara seni barongsai dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur? Apakah mayoritas masyarakat keturunan Tionghoa sudah memeluk agama Islam?
Almarhum Gus Dur adalah mantan Presiden Republik Indonesia (RI) yang memimpin bangsa ini antara tahun 1999 sampai dengan 2002. Walaupun Pemerintahan Gus Dur berlangsung singkat, sosok Gus Dur bukanlah nama baru bagi sejarah kehidupan masyarakat China di Indonesia. Kebebasan masyarakat keturunan China terpasung selama Pemerintahan Orde Baru. Gus Dur menjadi presiden RI pertama yang membuka pintu gerbang kebebasan masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Pada masa Pemerintahan Presiden Gus Dur dikeluarkan aturan yang menetapkan Konghucu sebagai salah satu agama yang diakui oleh negara Indonesia. Pemeluk agama Konghucu sejajar dengan umat Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Buddha dalam mendapatkan pelayanan publik di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak saat itu pula WNI keturunan etnis China dibebaskan menampilkan atraksi barongsai di depan umum.
Makam Gus Dur terletak di Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Makam Gus Dur adalah salah satu tempat wisata di Jombang yang akhir-akhir ini ramai dikunjungi oleh para peziarah. Wisatawan yang berkunjung ke Makam Gus Dur pada umumnya merupakan wisatawan yang ikut serta dalam tour ziarah Wali Songo. Wali Songo merupakan sembilan tokoh utama penyebar agama Islam di tanah Jawa. Gus Dur dianggap oleh masyarakat setempat sebagai salah satu wali di tanah Jawa.
Menurut Wikipedia, Gus Dur juga menjadi salah satu pemimpin bangsa ini yang memiliki silsilah keluarga dari Tionghoa. Oleh karena itu, bukan yang aneh bila warga keturunan China turut memeriahkan peringatan seribu hari wafatnya Gus Dur dengan menampilkan pertunjukan seni barongsai. Meskipun Jombang dikenal luas sebagai kota santri, toleransi antar pemeluk agama yang berbeda dapat berjalan dengan serasi. Inilah salah satu nilai luhur yang harus dipertahankan oleh seluruh masyarakat Indonesia.













