Siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar akan mengikuti sebagian besar perbuatan yang dikerjakan oleh seorang guru atau pengajar di sebuah kelas. Bila guru tersebut mampu memberikan contoh yang baik, maka ada kemungkinan murid juga akan menjadi baik. Sebaliknya, kalau gurunya memberi contoh buruk maka kemungkinan besar murid TK dan SD akan berlaku lebih buruk.
Ingat, saat ini melakukan perbuatan terpuji itu banyak tantangan dan hambatannya. Lain halnya kalau melakukan perbuatan tercela. Setan akan menghias perbuatan tersebut seolah-olah baik sehingga banyak orang yang mendukung. Setiap pengajar hendaknya memahami dan menjalani prinsip ini dalam setiap kesempatan mengajar di kelas.
Salah satu contoh mudah dan sering saya jumpai di kelas adalah guru mengeluh di depan murid-murid ketika kondisi kelas tidak kondusif untuk dilakukan proses belajar mengajar. Bagaimana bentuk keluhan guru? Diantaranya adalah seperti ini.
Duh, masih ngantuk banget…
( Ngomongnya sambil menguap. Mulutnya nggak ditutup pakai tangan lagi. Kesalahan berlipat ganda… )
Di rumah banyak cucian, disini saya ketemu kalian malah ribut melulu…
( Hallo! Siapa yang suruh Anda menjadi pengajar. Kalau mau jadi tukang cuci nggak usah masuk kelas. Segera pulang dan cuci sana… )
Kalian ini gimana sih, sudah saya bela-belain datang mengajar. Kalian malah mainan terus…
(Nah, ini contoh guru yang tidak bisa mengondisikan kelas sehingga nyaman dijadikan tempat belajar. Kalau guru tersebut tanggap, seharusnya situasi kelas diubah supaya murid lebih betah di dalam kelas… )
Beberapa contoh kecil di atas bisa saja terjadi tanpa guru sadari. Mereka mengucapkan kalimat tersebut sebagai bentuk ekspresi ketegangan hidup atau stress. Mengantuk, himpitan kebutuhan ekonomi, masalah keluarga, dan banyak tugas menumpuk dan belum terselesaikan adalah beberapa gejala seseorang akan mengalami stress.
Jika gurunya saja stress mengalami masalah hidup, maka sangat mungkin murid ikutan stress berlipat ganda. Kalau murid sudah stress, segala bentuk pengajaran akan sulit mereka tangkap. Guru seharusnya mampu menyimpan berbagai masalah pribadi yang dimilikinya sehingga tidak tampak di depan murid. Biarlah urusan orang dewasa diselesaikan orang dewasa juga.
Kemampuan memberi suri tauladan yang baik akan memberikan pencitraan positif di mata siswa. Dengan demikian, mereka memiliki role model yang dapat dijadikan panutan dalam menjelang masa depan yang makin kompleks. Semoga artikel ini bisa menjadi inspirasi bagi setiap pendidik di Indonesia. Selamat mengajar!














Pingback: Dibutuhkan: Guru TPQ Disiplin dan Bersedia Tidak Digaji | The Jombang Taste
Pingback: Suka Duka Menjadi Ustadz Muda Pengajar Santri Putri ABG | The Jombang Taste