Perlawanan Kerajaan Makassar dan Isi Perjanjian Bongaya

perjanjian bongaya

perjanjian bongaya

Apa kabar kawan blogger Indonesia? Pada artikel sebelumnya kita telah membahas perjuangan rakyat Maluku dan Aceh dalam usaha menentang kolonialisme Portugis di Nusantara, maka artikel sejarah dari The Jombang Taste ini akan mengulas perjuangan rakyat Makassar.

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, banyak saudagar Islam yang mengalihkan jalur perdagangan mereka dari Malaka dan memilih berkunjung ke Bandar Makassar. Begitu juga ketika Malaka ditutup oleh Belanda pada tahun 1641, Makassar banyak dikunjungi oleh kapal dagang karena merupakan bandar bebas yang menggantikan kedudukan Malaka.

Selain itu, ekspansi Sultan Ageng Tirtayasa di Pantai Utara Laut Jawa membuat saudagar-saudagar Jawa pindah ke Makassar. Bandar Makassar dipandang VOC sebagai saingan berat dalam melakukan monopoli perdagangan mereka di Kepulauan Nusantara. Oleh karena itu, VOC berusaha meruntuhkan kekuasaan dagang kerajaan Makassar.

Kerajaan di Makassar yang menentang Belanda adalah Kerajaan Goa sehingga tahun 1634 Belanda mengepung Bandar Goa tetapi gagal karena seluruh armada Makassar sudah menuju Ambon. Akhirnya masing-masing pihak saling menghindar dalam pelayaran dan tidak terjadi pertempuran.

Tetapi sekitar tahun 1638 permusuhan meletus karena adanya perampasan terhadap kapal Goa milik Belanda yang berisi kayu cendana. Keadaan ini tidak bisa diterima oleh Sultan Goa dan menuntut Belanda untuk membayar ganti rugi, namun permintaan itu ditolak oleh Belanda. Akibatnya, terjadi pertempuran yang melibatkan kedua belah pihak.

penjajahan asing di Nusantara

penjajahan asing di Nusantara

Isi Perjanjian Bongaya Antara Kerajaan Makassar dan Belanda

Peristiwa pertempuran antara Kerajaan Makassar dan Belanda terjadi dua kali. Pertama, pada tahun 1655 pada saat Makassar dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Saat itu perang diakhiri dengan perjanjian akan pengakuan atas hak-hak Belanda di Maluku sehingga Makassar tidak punya peluang untuk berdagang ke Maluku.

Kedua, pada tahun 1667 pertempuran terjadi di dua tempat, yaitu di Buton dan Makassar. Dalam perang ini, pihak Belanda dibantu oleh Aru Palaka, Raja Bugis dari Bone. Dalam pertempuran itu Sultan Hasanuddin kalah dengan diadakannya Perjanjian Bongaya pada tahun 1667.

Isi Perjanjian Bongaya adalah sebagai berikut:

  • Makassar harus melepaskan daerah kekuasaannya atas Bugis, Bima, dan Sumbawa.
  • Kapal-kapal Makassar tidak boleh berlayar ke Maluku.
  • Bangsa-bangsa lain dilarang tinggal di Makassar.
  • Hanya VOC yang boleh memasukkan barang-barang ke Makassar.
  • Makassar harus membayar biaya perang dan menyerahkan 1000 budak belian.

Akibat kejatuhan Makassar maka benteng Indonesia bagian Timur roboh. Saingan VOC akhirnya lenyap dalam monopoli perdagangan di wilayah Maluku.

About Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo.
This entry was posted in Sejarah Budaya and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Perlawanan Kerajaan Makassar dan Isi Perjanjian Bongaya

  1. Pingback: Perlawanan Rakyat Aceh Menentang Kolonialisme Portugis dan Belanda | The Jombang Taste

Leave a Reply