Kalimat dalam Twitter bisa dijiplak oleh orang lain tanpa perlu mencantumkan nama pembuatnya. Hal ini mengundang keprihatinan saya. Mengapa? Ini tak ubahnya dengan isu duplicate content dalam algorithma Google Panda. Aduh, kedengarannya lebay banget yah? Mengapa harus meributkan satu baris kalimat yang terdiri dari 14o karakter? Kan cuma kalimat, kita bisa mendapatkan dari buku, media cetak, maupun obrolan audio-visual.
Timeline Twitter memungkinkan setiap orang bisa mencuri ide orang lain sehingga terlihat seolah-olah dia pintar, padahal aslinya nggak sama sekali. Personal branding yang dibentuk memang kemungkinan besar akan berhasil. Tapi saya pribadi merasa kasihan kepada para downline yang terpesona oleh usaha pencitraan tersebut. Dua tahun menekuni profesi blogger membuat saya tersadar bahwa personal branding ibarat pisau bermata ganda. Jika dijalankan secara tidak tepat, bisa menghasilkan kerugian.
Downline boleh jadi akan merasa tertipu. Efek paling tragis adalah menimbulkan sikap antipati kepada bisnis online. Mungkin ini pikiran terlalu mengada-ada. Namun jika berkaca dari kasus Joko Susilo dengan produk SMUO-nya, saya berpendapat makin banyak yang terpacu menghasilkan personal branding kelabu di jejaring sosial Twitter.
CopyScape adalah website yang dibuat untuk mengetahui kemungkinan kesamaan konten internet yang sama. Jika hal ini diberlakukan di Twitter, saya yakin pengguna akan lebih terpacu untuk kreatif memproduksi tagline mereka sendiri. Hal ini berlaku bukan hanya untuk quote saja, layanan update blog otomatis ke Twitter (misalnya twitterfeed) juga akan terkena imbas hal ini.
Sejauh ini belum ada yang memulai ide semacam ini. Bahkan mungkin akan ada banyak pihak yang menolak, terutama para pebisnis online yang berkepentingan dengan optimasi web. Semakin banyak url web mereka berada di timeline, makin besar kemungkinan tampil sebagai nomor satu di hasil pencarian Google.
CopyScape dan Twitter seperti menjadi ide gila bagi kebanyakan orang. Mau berteman saja pakai banyak aturan. Kalau nggak suka ya jangan online di Twitter. Mungkin itu kalimat yang muncul di pikiran Anda saat ini. But, saya suka berpikir yang aneh-aneh, bahkan absurd sekalipun. Hehehe. Here I am. Mungkin saat ini belum bisa terealisasikan. Siapa tahu ke depannya saat ide dan pikiran manusia semakin dihargai, maka kita butuh media untuk memberi apresiasi bagi yang mampu berpikir secara brilyan.





Now we know who the senislbe one is here. Great post!