Kehidupan Pemain Jaranan Campursari Rahmat Wijaya dan Bisnis Rekaman

KESENIAN JARAN KEPANG DAN BUDAYA KESURUPAN ARWAHJaranan Campursari Rahmat Wijaya adalah salah satu ikon kota Jombang. Popularitasnya tidak kalah dibanding dengan kelompok musik dangdut Sagita dari Nganjuk. Keduanya memiliki kesamaan dalam hal membangun ketenaran, yaitu dari penjualan CD/DVD bajakan yang dijual laris manis kayak kacang goreng. Hal ini ditunjang oleh kemajuan teknologi dengan hadirnya DVD Player dengan harga terjangkau. Bukan hal yang aneh kalau tiap rumah punya kebiasaan memutar musik jaranan keras-keras.

Salah satu pihak yang banyak menuai untung dalam berkembangnya trend ini adalah pihak label rekaman. Saat saya menyebut label rekaman jangan dikira saya lagi bahas artis top macam Agnes Monica, Afgan Syahreza, Rossa, dan artis lainnya yang sukses dengan label nasional. Di daerah-daerah pun banyak bermunculan perusahaan rekaman lokal karena melihat peluang bagus industri rekaman budaya jaranan dan musik dangdut. Bedanya terletak pada kualitas gambar, teknologi editing, wilayah promosi, dan strategi promosi yang dipilih.

Melestarikan Budaya Melalui DVD Bajakan

Tidak bisa disangkal, akibat DVD bajakan yang beredar secara luas, anak-anak kecil mulai mengenal kesenian kuda kepang, jaran kepang, kuda lumping, jaran dor, dan aneka sebutan lainnya. DVD bajakan bisa menggantikan tayangan live kuda lumping yang makin jarang terjadi. Saat ini makin jarang orang yang punya hajatan nanggap jaran kepang karena beberapa alasan. Anak-anak pun mempunyai banyak waktu untuk menyaksikan lebih jauh detail jaran kepang.

Inilah efek bagus yang diberikan DVD bajakan terhadap upaya pemerintah mempertahankan kelestarian budaya bangsa. Entah sadar atau tidak, tayangan jaranan yang diulang-ulang bisa menimbulkan efek hafalan bagi anak-anak yang memiliki ingatan bagus pada masanya. Pada akhirnya mereka punya sikap memiliki kesenian jaran kepang sebagai identitas bangsa.

Produser Senang, Belum Tentu Bagi Pemain Jaran Kepang

Minggu lalu saya menyaksikan acara shooting video klip jaranan campursari Rahmat Wijaya yang dilaksanakan di dua lokasi di kecamatan Mojowarno. Lokasi pertama di balai desa Mojowarno, sedangkan lokasi kedua mengambil latar belakang persawahan di jalan antara pertigaan SMP Pancasilan menuju wilayah Penggaron. Waktu itu cuaca sangat terik. Meski demikian, para pemain jaranan tetap bersemangat menari diiringi musik jaranan yang telah direkam pada beberapa hari sebelumnya.

Tahu nggak, untuk kontrak kerja membuat video klip dan alunan musik jaranan campursari ini mereka mendapat hanya Rp 5 juta. Angka itu saya dapat dari salah satu sumber terpercaya di kelompok tersebut (jika salah, mohon koreksi melalui kolom komentar). Saya lantas berpikir, apakah uang 5 juta layak untuk kru yang terdiri dari kurang lebih 40 orang? I don’t think so.

Menurut saya, yang untung adalah para kapitalis yang berperan sebagai produser pembuatan DVD jaranan campursari. Mereka bebas mengedarkan copy DVD kemanapun tanpa perlu kontrol. Berita yang saya dengar adalah penjualan DVD jaranan bukan hanya di wilayah Jawa Timur, tetapi juga masuk ke pulau Kalimantan dengan memanfaatkan pendatang yang berasal dari pulau Jawa. Jika pemilik jaran kepang bersedia memperhitungkan royalti penjualan DVD asli maka bisa saya bayangkan betapa makmurnya para senimana pelestari budaya bangsa ini.

Lebih miris lagi waktu saya memperhatikan kehidupan seniman jaran kepang sehari-hari. Mereka masih jauh dari kata sukses dari jaranan. Salah satu sinden jaran kepang saya ketahui masih jualan sayur di pasar Mojowarno. Lalu ada pemain topeng genderuwon yang jadi petugas cleaning service rumah sakit di Mojowarno. Yang lainnya, ada yang masih jualan es tebu di pinggir jalan. Saya bisa bicara begini karena salah satu dari mereka adalah tetangga rumah dan saya tahu cerita dari dia.

Jika Pemerintah tidak sigap menyikapi hal ini, bisa saja pelaku kesenian kuda lumping akan pindah profesi ke pekerjaan lain. Mungkin kita terlalu muluk-muluk kalau membicarakan pembagian royalti DVD yang lebih adil karena itu masuk wilayah internal organisasi rekaman. Setidaknya Pemerintah ikut andil memberi apresiasi bagi budaya lokal supaya jangan sampai kuda lumping diakui sebagai budaya negeri tetangga. Any ideas?

Related posts:

This entry was posted in Sosial Budaya and tagged , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Kehidupan Pemain Jaranan Campursari Rahmat Wijaya dan Bisnis Rekaman

  1. bocah mojowarno says:

    yang jualan di pasar mojowarno itu bu suprih ya?
    kayaknya iya deh…

  2. Cak Dikin says:

    Tumben ada yang bahas artikel kuda lumping. Blog lain bahas bisnis online. Mantab gan!

  3. Mursidi Jombang says:

    mmg sungguh prihatin. capek2 joget cuma dapat 20ribu sehari.

  4. grosir tanah abang says:

    cerita ini beneran atau rekayasa? kok mau dibayar cuma 5 juta sekali syuting. mending jualan di tanah abang deh. wakakakak…

  5. seniman tanjidor says:

    Itulah Indonesia. Baru teriak kalau budayanya direbut negeri tetangga.

  6. Anto says:

    bukan salah produser yang tamak, tapi salah pimpinan jaranan yang nggak mau belajar bisnis.

  7. Hilario Difalco says:

    I am not sure where you are getting your info, but great topic. I needs to spend some time learning more or understanding more. Thanks for excellent info I was looking for this information for my mission.

  8. traffic says:

    It’s a pity you don’t have a donate button! I’d definitely donate to this outstanding blog! I suppose for now i’ll settle for bookmarking and adding your RSS feed to my Google account. I look forward to brand new updates and will share this blog with my Facebook group. Chat soon!

  9. Pingback: notebook tipis harga murah terbaik

  10. Pingback: Manfaat Konten Lokal Buatan Indonesia | Catatan Motivasi Blogging Indonesia

  11. artikel motivasi diri yang bagus untuk penulis lepas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>