Artikel sebelumnya telah membahas godaan setan dalam perkara kebatinan yang dilakukan oleh kelompok Majusi. Bagaimana kesesatan kaum kebatinan dan bagaimana madzhab perjalanan mereka? Abu Hamid Ath-Thusi menyatakan bahwa kaum kebatinan adalah golongan yang menyatakan diri beragama Islam, tetapi pahamnya lebih condong kepada kaum Rafidhoh. I’tikad dan amal perbuatan mereka berlawanan dengan ajaran agama Islam.
Masih menurut Abu Hamid Ath-Thusi, diantara madzhab kelompok Majusi ada yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada dua qadim, yaitu terdahulu. Mereka berpandangan tidak ada permulaan bagi adanya menurut zaman, hanya yang satu menjadi sebab bagi keberadaan yang kedua.
Tuhan yang qadim itu tidak disifatkan dengan yang ada. Ia tidak maujud (ada) dan tidak ma’dum (tidak ada), ia tidak ma’lum (diketahui) dan tidak majhul (tidak diketahui). Ia tidak maushuf (disifatkan) dan tidak ghairu maushuf (tidak disifatkan). Dan Tuhan yang kedua itu, jadi dari yang satu, dan ialah permulaan pencipta, kemudian jadi diri semuanya.
Dari pernyataan Abu Hamid Ath-Thusi di atas telah menunjukkan bahwa setan telah sebegitu jauh menyesatkan manusia. Belum lagi yang mengenai kerasulan, hari kebangkitan sesudah mati dan lain-lain.
Kaum kebatinan itu ketika merasa lemah maka mereka memalingkan kaum muslimin dari Al-Quran dan As-Sunnah. Lalu mereka memalingkan manusia dari tujuan Al-Quran dan As-Sunnah yang sebenarnya menuju hal-hal ganjil yang berlawanan dengan ajaran Islam.
Mengapa kaum kebatinan tidak terang-terangan menyesatkan manusia? Hukum Islam yang berlaku saat itu sangat tegas. Karena kalau mereka terang-terangan menyalahi Al-Quran dan As-Sunnah maka mereka akan dibunuh semua oleh khalifah-khalifah Islam pada masa itu.
Semoga tulisan ini bisa menambah pengetahuan Anda dalam mempelajari Islam dan memupuk semngat hidup Islami.














Pingback: Bukti Pemikiran Aliran Kebatinan Merusak Syariat Islam | The Jombang Taste