Legenda Kyai Kerincing Wesi di Kaki Gunung Merapi

Legenda Kyai Kerincing Wesi di Kaki Gunung Merapi

Legenda Kyai Kerincing Wesi di Kaki Gunung Merapi

Pada waktu menjelang petang, suhu udara di sekitar gunung Merapi mulai terasa menggigit tubuh. Di atas desa Kinah Rejo, suatu tempat yang mendapat julukan sebagai Kyai Kerincing Wesi, para pendaki bisa melihat keindahan alam di sekeliling Merapi. Untuk sejenak, kekaguman menyelimuti dada. Gemerlap kehidupan desa-desa di kaki Merapi terlihat seperti bintang-bintang di daratan bumi. Ada yang berkumpul menjadi satu kelompok, ada pula yang terpencar menyebar ke berbagai sudut wilayah Kyai Kerincing Wesi.

Mengapa tempat itu disebut Kyai Kerincing Wesi? Sayangnya tidak ada peninggalan sejarah maupun punden yang berkaitan dengan sebutan Kyai Kerincing Wesi di hamparan tanah pegunungan yang luas itu. Berdasarkan sejarah sebelum kerajaan Mataram berdiri, tepatnya saat Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati Ing Alogo Sayyidin Panatogomo bersama ayahnya Ki Gede Pemanahan dan Ki Juru Mertani membuka hutan di kawasan Mentaok, ia mulai menjalin hubungan dengan Ratu Pantai Selatan yang demikian legendaris.

Sampai sekarang hubungan yang dimulai oleh pendiri dinasi Mataram (yang merupakan akronim dari kalimat ‘Memet di tata agar anak cucu nanti menjadi marem atau puas’) dengan Kanjeng Ratu Kidul tetap menjadi satu kajian yang tak pernah putus di bahas. Ada satu pendapatan yang menyatakan bahwa hubungan tersebut merupakan ikatan perkawinan. Ada pula yang menyatakan bahwa hal ini merupakan kontrak gaib antara raja-raja tanah Jawa dengan Penguasa Laut Selatan.

Telur Kyai Jagad Ubah Kerincing Wesi Jadi Raksasa

Selain itu, terdapat pendapat yang menyatakan bahwa hubungan raja-raja Mataram dan penguasa Laut Selatan adalah bukti penghargaan dan saling menghormati antara Panembahan Senopati yang juga bergelar sebagai Wong Agung Saking Ngeksiganda dengan berbagai makhluk ciptaan Tuhan, baik yang kasat mata maupun tak kasat mata. Nah, Kerincing Wesi adalah salah satu tempat yang menjadi saksi perjanjian antara penguasa Mataram dan penghuni makhluk gaib di Mataram.

Terlepas dari semua kisah yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, ada satu legenda yang dipercaya memiliki kebeneran. Pada suatu saat Panembahan Senopati mendapatkan sebutir telur dari Kanjeng Ratu Kidul. Telur itu bernama Kyai Jagad yang harus dimakan setibanya di istana nanti. Secara kebetulan, setibanya di istana kerajaan Mataram, kedatangan Panembahan Senopati memang sudah ditunggu oleh Sunan Kalijaga.

Dengan mata batinnya yang demikian tajam dan tanpa banyak bertanya, salah satu wali sembilan di tanah Jawa ini langsung tahu benda apa yang dibawa oleh Sang Nata. Sunan Kalijaga menyarankan agar Panembahan Senopati memberikan telur pemberian itu kepada juru taman yang bernama Kerincing Wesi. Panembahan Senopati pun menyetujui saran itu.

Apa yang terjadi? Ketika sang juru taman memakan telur Kyai Jagad pemberian Panembahan Senopati, tubuhnya seketika menjadi raksasa. Melihat keadaan ini, selanjutnya sang juru taman diperintahkan untuk menjaga gunung Merapi. Dan sampai sekarang sang juru taman yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Kerincing Wesi tetap setia menjaga Merapi dan konon memiliki istana gaib di wilayah Kerincing Wesi.

Jembatan Setan dan Pasar Setan

Salah satu tempat yang dikenal oleh para pendaki adalah yang disebut dengan jembatan setan. Jembatan setan adalah daerah tanjakan di kaki gunung Merapi yang lumayan tinggi tingkat kesulitannya. Di tempat yang berbatu terjal setengah miring dan sudah banyak memakan korban jiwa inilah para pendaki harus ekstra hati-hati. Banyak cerita mistik beredar mengiringi meninggalnya para pendaki yang tersesat di gunung Merapi.

Walaupun matahari tepat berada di titik kulminasi langit, tetapi gangguan dari para penunggu gaib tempat itu mulai terasa. Pernah ada cerita salah satu pendaki tiba-tiba panik karena kakinya tidak bisa digerakkan. Beruntunglah salah satu tim pendaki ada yang sedikit menguasai ilmu gaib. Dengan begitu, gangguan yang dialami bisa diatasi. Lain halnya pengalaman dari pendaki lainnya. Dia pernah melihat seorang wanita cantik memanggil sambil melambaikan tangan dari sisi seberang. Untungnya dia tidak terpengaruh sama sekali.

Keanehan di jembatan setan ini akan semakin terasa jika malam menjelang. Di bawah jembatan akan tampak sebuah lokasi pasar malam yang lengkap dengan lampu yang menerangi berbagai macam barang dagangan. Bahkan tampak pula berbagai jenis makanan yang dijual saat ini, misalnya bakso, es campur, mie ayam dan lain-lain. Jika siang menjelang, pasar itu seketika lenyap entah kemana. Agaknya, inilah yang menyebabkan kenapa para pendaki menamakan daerah itu sebagai pasar setan.

Itulah sebagian legenda asal usul terjadinya wilayah Kyai Kerincing Wesi di kaki gunung Merapi. Meski kerapkali Merapi menampakkan aktifitas vulkanisme-nya, namun masyarakat percaya bahwa selain membawa bencana, Merapi juga membawa manfaat bagi warga sekitar. Semua tak terlepas dari adat istiadat masyarakat Jawa yang identik dengan prinsip keseimbangan antara kehidupan yang kasat mata dan tidak kasat mata. Mengenai kebenaran isi cerita rakyat, hal tersebut adalah bagian dari sejarah budaya yang secara turun temurun mengakar dalam kepercayaan masyarakat.

About Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo.
This entry was posted in Sosial Budaya and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Legenda Kyai Kerincing Wesi di Kaki Gunung Merapi

  1. Nana says:

    tanah jawa memang angker ya. hihihi…

  2. hartono says:

    namanya juga wong jowo. gag asik kalau gag bicara masalah setan. apalagi ngomongin babad tanah jawa. gag bakalan habis.

  3. Agen Foredi Semarang says:

    dari blog mas agus nyampai sini. hehehe.
    blog yang bagus mas. isinya lengkap.

  4. ferdi says:

    pantesan saya dulu kesasar waktu mendaki merapi. nice info gan.

Leave a Reply