Legenda Pangeran Islam Ongguk Di Madura

Apa kabar blogger Madura dan blogger Indonesia? Artikel sejarah kali ini masih membahas sejarah budaya kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Pulau Madura. Pada artikel sebelumnya telah diceritakan perkawinan yang setingkat dan serasi serta kehidupan rukun sentosa antara Nyi Banu dan Ki Ario Pramono. Pasangan serasi tersebut dikaruniai seorang putra yang bernama Pangeran Banurogo. Ia merupakan putra mahkota Keraton Pamekasan dan naik tahta dengan gelar Pangeran Nugroho setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.

Pada waktu ia memerintah, agama Islam mulai masuk dan menyebar ke seluruh pelosok Madura. Akan tetapi Pangeran Nugroho dan sebagian rakyatnya tetap memeluk agama Budha. Sedangkan sebagian rakyat Keraton Pamekasan dan kelima putra telah memeluk agama Islam. Lima orang putra Pangeran Nugroho adalah Pangeran Ronggosukowati, Pangeran Nurogo, isteri Pangeran Lumajang, Adipati Madegan, dan Nyi Taluki.

Meskipun Pangeran Nugroho sering dibujuk oleh putra-putrinya supaya memeluk agama Islam, ia selalu menolak sambil tersenyum. Pangeran Nugroho mengatakan bahwa kelak jika dia sudah meninggal dan jenazahnya sudah dimasukkan ke dalam liang kubur, bila terjadi gempa bumi (Bahasa Madura: lendhu), maka itulah tandanya dia sudah memeluk agama Islam.

images for floral ornamental

images for floral ornamental

Gambar Ornamental

Gambar Ornamental

Kejayaan Keraton Pamekasan di Bawah Pemerintahan Pangeran Nugroho

Penyebaran agama Islam di pulau Madura, khususnya di wilayah Pamekasan, bertambah luas sejak Pangeran Nurogo tamat belajar menuntut agama Islam pada Sunan Gresik. Sejalan dengan penyebaran agama Islam di tanah Madura, toleransi beragama di Pamekasan pada Pemerintahan Pangeran Nugroho benar-benar terwujud walau sebagian rakyatnya beragama Islam dan sebagian lainnya beragam Budha. Hal ini terbukti dengan tidak adanya perselisihan paham dan silang sengketa sedikitpun diantara kedua penganut agama itu.

Pada pemerintahan Pangeran Nugroho pula, pelabuhan Talang sering disinggahi para pedagang antar pulau dan tidak sedikit pula kapal dagang asing yang berlabuh. Kapal dagang asing yang saat itu mulai masuk Madura berasal dari Kompeni Belanda. Pangeran Nugroho berhasil mengantarkan rakyatnya mencapai taraf hidup yang lebih baik sesuai tuntutan zaman itu.

Keraton Pamekasan kian hari kian ramai. Hubungan antarpulau semakin akrab. Hal ini ditandai dengan perkawinan Nyi Taluki, putri Pangeran Nugroho, dengan Raja Batuputih dari Sumenep. Pernikahan antar keraton ini menunjukkan bahwa Keraton Pamekasan ketika itu sudah terkenal dimana-mana berkat kepemimpinan Pangeran Nugroho yang arif dan bijaksana. Hubungan diplomasi melalui pernikahan dilakukan untuk menghindari pertumpahan darah dalam perluasan wilayah keraton.

Ornamental Baroque Inspiration

Ornamental Baroque Inspiration

Pangeran Nugroho Memeluk Agama Islam Sebelum Wafat

Dalam keadaan usia yang beranjak tua, Pangeran Nugroho jatuh sakit. Rupanya tidak ada harapan baginya untuk hidup lebih lama lagi karena selama sakit ia sering tidak sadarkan diri. Segala jenis makanan dan minuman ditolaknya. Semua juru rawat dan ahli pengobatan telah didatangkan. Namun kondisi kesehatan Pangeran Nugroho malah makin memburuk. Sesuai dengan ajaran Islam, maka putra-putrinya selalu mendampingi dan membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya.

Setelah mendengarkan dua kalimat syahadat, Pangeran Nugroho pelan-pelan membuka matanya dan mengangguk-angguk (bahasa Madura: aongguk). Sesaat kemudian, dengan tenang ia menghembuskan nafas yang terakhir. Semua putra dan putrinya berduka atas wafatnya ayahanda tercinta. Namun mereka bersyukur karena pada akhir hayatnya, ayah mereka bersedia mengucap dua kalimat syahadat sebagai pertanda masuk Islam. Pangeran Nugroho wafat pada tahun 1530 Masehi.

Setelah jenazah Pangeran Nugroho diturunkan ke liang lahat dan badannya menyentuh tanah, terjadilah gempa bumi (bahasa Madura: lendhu) yang cukup dahsyat. Masyarakat terheran dengan fenomena alam yang tidak biasa ini, namun tidak bagi putra-putri Pangeran Nugroho. Dengan adanya peristiwa itu, maka ucapan Pangeran Nugroho yang sering dilontarkan kepada putra-putrinya terbukti kebenarannya, yaitu dia sudah beragama Islam ketika telah meninggal dunia.

Sejak saat itu, masyarakat Pamekasan lebih mengenal Pangeran Nugroho dengan sebutan Pangeran Islam Ongguk. Sebagian masyarakat lainnya menamakan Pangeran Lendhu. Mengenai benar atau tidaknya anggapan bahwa Pangeran Nugroho telah memeluk agama Islam, hanya Allah Yang Maha Tahu. Semoga kisah sejarah budaya Madura ini bisa berguna bagi pembaca. Mari kita lestarikan kekayaan budaya daerah sebagai bagian penting terbentuknya kebudayaan nasional Indonesia.

About Agus Siswoyo

Warga Jombang, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo. Matur nuwun!
This entry was posted in Sosial Budaya and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply