Tips Menghadapi Mertua Cerewet

Menteri Olahraga Baru Brazil Untuk Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016

mertua cerewet dan banyak menuntut

Kalaupun ternyata kita dianugerahi calon mertua dan mertua yang cerewet, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk meredam keadaan dan mengendalikan hubungan baik dengan mertua. Langkah-langkah solusi tersebut antara lain :

  1. Sebelum menikah, ada baiknya jika kita benar-benar mengenal dan dekat dengan keluarga pasangan. Hal ini berguna agar kita dapat melebur menjadi sebuah keluarga besar. Karena bagaimanapun pernikahan tidak hanya menyatukan dua individu tapi juga keluarga. Dengan kita berusaha mengenal dan dekat, terlebih jika kita pandai menempatkan diri di tengah-tengah keluarga pasangan, akan mengurangi resiko mertua kita akan cerewet. Karena di tahapan inilah sebenarnya proses perkenalan, menyatukan visi dan misi, pengertian, tidak hanya kepada suami tapi juga orang tua, akan dimulai.
  2. Setelah pernikahan, jika orang tua pasangan masih bersikap “aneh” kepada kita maka cara pertama yang harus dilakukan adalah mencari tahu mengapa beliau menunjukkan sikap seperti itu kepada kita. Apakah memang kita memiliki kesalahan atau memang ada faktor penyebab lain.
  3. Yakinkan pada beliau, bahwa anaknya berada di orang yang tepat. Hal ini bisa dilakukan dengan menunjukkan bahwa kita bisa mengurus rumah tangga hingga paripurna. Meskipun kita tidak hanya sebagai ibu rumah tangga tapi juga bekerja di luar rumah.
  4. Jika orang tua pasangan masih saja cerewet, mencampuri urusan rumah tangga, misalnya dengan menyatakan kita tidak becus mengurus rumah, ada saja yang salah, seharusnya begini lah begitu lah, dan lain-lain. Cara yanga paling ampuh untuk mengeliminasi sikap tersebut adalah jadikan orang tua pasangan sebagai partner dan guru. Nyatakan pada beliau bahwa kita ingin sekali belajar dari beliau bagaimana menjalankan kehidupan rumah tangga. Jangan sungkan untuk bertanya tentang berbagai hal. Orang tua cenderung menginginkan dilibatkan dalam kehidupan anaknya.
  5. Menjaga komunikasi dan silahturahmi yang baik dengan orang tua pasangan. Dalam keadaan apapun menjalin komunikasi dan silahturahmi penting dilakukan. Sekedar telepon untuk menanyakan kabar dan berkunjung ke rumah orang tua meskipun sejenak. Jangan menunggu sampai mereka kangen dan meminta kita untuk datang. Selain itu juga bawakan hal-hal yang disukai oleh beliau. Dengan begitu orang tua pasangan akan merasa diperhatikan.
  6. Jangan memposisikan diri sebagai menantu. Karena menantu terkesan kita adalah orang luar yang masuk ke dalam lingkaran keluarga mereka. Tapi tempatkan diri sebagai anak bagi mereka. Sehingga dengan pernikahan kita, jangan sampai mereka merasa telah kehilangan anak tapi mereka ketambahan anak dengan hadirnya kita.

Semua usaha-usaha di atas tentunya harus dilakukan berdua. Pasangan suami istri harus saling bersinergi untuk membuktikan pada orang tua masing-masing bahwa pasangan yang mereka pilih adalah tepat. Peranan masing-masing sangat berarti untuk saling menguatkan dalam menjalani proses adaptasi. Dan yang paling terpenting dari semua itu adalah mengkomunikasikan semua yang terjadi dengan pasangan. Jangan sungkan untuk memberitahukan perlakuan orang tuanya, bukan untuk mengadu tapi untuk mencari solusi bersama.

About Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo.
This entry was posted in Sosial Budaya and tagged , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Tips Menghadapi Mertua Cerewet

  1. Kurnia Septa says:

    semoga tidak dapat mertua cerewet,

  2. nice info sodara……

    komment balik yaaaa

  3. konde says:

    setuju sama mas kurnia hehehe

  4. Handa says:

    ada saran gak untuk menghadapi mertua tionghoa… pdh ak pribumi

  5. Amal says:

    Kalau sakit hati dengan bos, baca kat dia pntuan ni (dari buku ‘Alamak, Bosku Seperti Hitler!’) hahaha:Pagi-pagi, sudah mencemuh,Si pemandu terus terdiam mengeluh,Bos ini jenis yang kecoh,Dapat “Tan Sri”, satu dunia dia heboh.“Ada pelanggan hendak jumpa”,Itulah kata si setiausaha,Bos enggan, mengantuk katanya,Biarkan pelanggan berjumpa air liur basinya. Bos memanggil mesyuarat mengejut,Ada pekerja berjalan bak siput,Bos pun menengking sampailah semput,Para pekerja terkentut-kentut.

  6. Jamil says:

    sangat bagus, tapi permasalahannya saya aadlah orang pemarah, memang saya tidak berada pada lingkungan yang selalu memicu kemarahan saya, namun sometimes saya tidak sadar kalau saya dalam keadaan marah bagaimana mengkontrolnya? terimakasih ..

Comments are closed.