Mencicipi Nasi Jagung Madura di Pasar Wadungasri

 

Lama tidak blusukan ke Pasar Wadungasri membuat saya kangen hiruk pikuk pasar yang juga dikenal dengan nama Pasar Gedongan ini. Lokasinya hanya 10 menit arah utara dari Bandara Juanda. Apa yang menarik di Pasar Gedongan? Secara khusus nggak ada yang istimewa. Sama seperti pasar tradisional lainnya, kalau hujan deras pasar ini sering banjir, kebersihan pasar juga masih kurang. Untungnya saya kalau kesana seringnya berlama-lama di lantai 2, jadi nggak sempat mencium bau sampah yang menumpuk hampir di setiap pojok pasar.

Soal harga jual barang-barang disini, kata orang-orang sih relatif murah. Memang sih lokasi pasar berdekatan dengan sejumlah pusat perdagangan. Misalnya soal harga ikan hasil tambak rakyat dan nelayan, pasar Gedongan disuplai dari Tambak Sawah dan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) di sekitar wilayah Banjar Kemuning dan wilayah-wilayah terdekat. Lalu soal pasar sandal, wilayah Wadungasri, Tropodo dan Wedoro dikenal sebagai sentra kerajinan rakyat yang menghasilkan sandal dan sepatu berkualitas bangus dengan harga terjangkau.

Mencicipi Nasi Jagung Madura di Pasar Wadungasri

Bagaimana dengan makanan atau jajanan rakyat? Untuk urusan makanan, kita nggak akan bisa lepas dari budaya warga Madura. Ini bisa dimaklumi karena wilayah Ngeni dan Wadungasri adalah basis warga Muslim Madura yang memegang teguh tradisi. Meski sudah lama tinggal di wilayah perkotaan Surabaya, yang namanya adat istiadat tetap jalan. Misalnya, dulu saya pernah mendapat kesempatan ikut takbir keliling di sini bersama anak-anak kecil, tua muda, besar kecil semuanya berkumpul. Sedangkan kita tahu, takbir keliling adalah hal yang langka dilakukan, meskipun di desa-desa terpencil sekalipun.

Budaya Madura juga terbawa ke dalam makanan yang dijual warga sekitar. Ada beberapa makanan khas Madura yang pernah saya cicipi di pasar Wadungasri. Misalnya ampyang merah Madura, bubur srunthul Madura, buntil Madura, martabak Madura dan yang tidak ketinggalan adalah nasi jagung Madura. Duh, rasanya lama sekali saya nggak makan nasi jagung disini. Tak tahan buat segera merasakan sensasi pedas urap-urap bumbu Madura.

Apa yang spesial dari nasi jagung Madura? Menurut saya, yang khas adalah bumbunya yang cenderung asin dan pedas. Sebungkus nasi jagung Madura dihargai Rp 3.500 terdiri dari nasi jagung, urap-urap, sayur lodeh, oseng-oseng buah pepaya (warga setempat menyebut tumis kates), ikan asin, goreng terong bumbu rujak dan tentu saja sambal. Meski cuma Rp 3.500 porsinya sudah banyak sekali. Saya hampir nggak mampu menghabiskan sendiri. Kalau mau nambah lauk ada sate usus, satu kulit, sate kerang dan lain-lain yang dihargai Rp1.500 per tusuk.

Penjual nasi jagung ini seorang wanita wanita paruh baya, kira-kira umurnya 22 tahun. Lokasinya di depan toko emas Gajah. Dia cekatan sekali melayani antrian pembeli. Hmm, kalau sudah makan nasi jagung yang ini dijamin keringat bercucuran. Pedas dan bikin semangat bagi siapa saja yang makan. Bagi yang baru pertama kali mencicipi, saya sarankan jangan makan banyak-banyak dulu. Hindari memaksakan diri menghabiskan satu bungkus. Kalau tidak, semoga saja Anda tidak sakit perut dan bolak-balik ke kamar mandi. Hehehe. Wisata kuliner yang satu ini menantang untuk dicoba.

About Agus Siswoyo

Warga Jombang, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, dan Guru TPQ. Ingin tahu lebih lanjut? Follow me at Twitter @agussiswoyo. Matur nuwun!
This entry was posted in Wisata Kuliner and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Mencicipi Nasi Jagung Madura di Pasar Wadungasri

  1. tipsh4re says:

    maknyos nasinya

  2. kodok kampus says:

    wahh jadi pengen buat sarapan pagi

Leave a Reply